Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kekompakan Petani Muda Warga Selopuro Blitar dalam Budi Daya Melon Hidroponik Ini Bisa Jadi Inspirasi, Berikut Kisahnya

M. Subchan Abdullah • Senin, 14 April 2025 | 21:45 WIB
KOMPAK: Adcha Ahmad Mubarok dan istrinya, Dwi Irawati, menunjukkan melon premium hasil budi daya secara hidroponik di greenhouse miliknya.
KOMPAK: Adcha Ahmad Mubarok dan istrinya, Dwi Irawati, menunjukkan melon premium hasil budi daya secara hidroponik di greenhouse miliknya.

BLITAR - Adcha Ahmad Mubarok dan istrinya, Dwi Irawati, memutuskan “pensiun” dari karyawan swasta di Ibu Kota Jakarta. Pulang kampung lantas nekat membuka lahan pertanian melon hidroponik melalui media greenhouse. Padahal, pasangan suami istri warga Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar ini sama-sama tak punya latar belakang ilmu pertanian. 

Lahan seluas 500 meter persegi itu awalnya hanyalah tanah bekas pertanian. Sudah lama tak terurus dan banyak rumput liar yang tumbuh. Lahan itu tepat berada di belakang rumahnya.

Adcha Ahmad Mubarok sudah lama punya mimpi untuk mengolah lahan milik orang tuanya tersebut. Jangan sampai lahan tersebut terbengkalai begitu saja. “Waktu itu saya ingin lahan itu bisa produktif dan menghasilkan. Tapi, waktu itu masih terbentur keadaan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar, saat ditemui akhir Maret lalu.

Kini, lahan seluas 500 meter persegi itu telah disulap menjadi greenhouse. Hunian nyaman bagi ribuan tanaman melon hidroponik. Meski baru berusia setahun, peluang budi daya buah hidpronik tersebut cukup menjanjikan. 

Ya, bisnis itu berawal dari dia masih berstatus sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan di Jakarta. Dia bagian teknisi mesin pompa untuk kelas industri. Waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja di perusahaan tersebut.

“Saya bekerja ikut perusahaan sudah sekitar 7 tahun. Kemudian 2024, saya memutuskan untuk resign dari perusahaan dan pulang ke kampung halaman Blitar,” ungkap pemuda 32 tahun ini.

Keputusan untuk hengkang dari perusahaan yang telah memberikan nafkah selama itu tentu berat. Namun, keputusan itu harus diambil dengan segala pertimbangan yang sudah disiapkan “Mungkin bagi saya bekerja di perusahaan ini sudah cukup. Saya sudah punya angan-angan untuk balik ke Blitar, untuk bangun usaha sendiri khususnya di bidang pertanian,” ujarnya.

Bapak satu anak ini menyadari bahwa terjun di bisnis bidang pertanian terbilang nekat. Pasalnya, dia tak memiliki latar belakang sekolah pertanian. Pun istrinya.

Keduanya sama-sama lulusan pendidikan tinggi dari jurusan teknik. Suami lulusan teknik sipil, sedangkan sang istri jebolan teknik informatika. “Namun, saya sebelumnya memang sudah menyukai pertanian, terutama hidroponik. Kebetulan saya juga punya teman yang menggeluti pertanian buah hidroponik, khususnya melon,” beber warga Desa Mandesan, Kecamatan Selopuro, ini.

Maka itu, pengetahuan seputar dunia pertanian hidopronik sedikit atau banyak telah dikantongi. Selain mendapat pengalaman dari petani hidroponik, dia juga terus mencari referensi dari buku maupun video-video dari kanal YouTube.

“Jadi, jauh sebelum memutuskan resign, saya sudah menyiapkan pelan-pelan semuanya. Termasuk lahan dan pembangunan greenhouse, saya lakukan bertahap. Ketika sudah sekitar 90 persen, barulah saya keluar,” ujarnya.

Selepas resign, Ahmad langsung fokus untuk budi daya melon hidopronik. Dia serius untuk menekuni pertanian hidroponik tersebut meski ilmu yang didapat belum seberapa. Sembari berjalan, dia terus belajar dan belajar.

Dengan semangat kuat, akhirnya greenhouse berbahan bambu itu mampu berdiri kokoh. Lengkap dengan fasilitas pendukung sistem hidroponik yang tentu memakan biaya tak sedikit. Greenhouse itu menampung sedikitnya 1.400 tanaman melon.

Ahmad menyebut bahwa skala budi daya melon hidroponik miliknya itu tergolong kecil. Mengingat, lahan yang dimiliki juga terbatas sehingga secukupnya. “Nah, kalau skala besar, untuk jumlah tanamannya bisa sampai puluhan ribu. Kalau di Blitar, untuk skala besar, ada sepertinya,” ungkapnya.

Perjalanan budi daya tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Di awal budi daya pasti ada kegagalan. Kegagalan itulah yang membuatnya terus belajar dan memperbaiki kesalahan.

Lambat laun, 1.400 bibit tanaman melon hidroponiknya itu berhasil dipanen sesuai target. Dengan tingkat kegagalan panen tidak lebih dari 15 persen. “Alhamdulillah, sedikit demi sedikit sudah paham ilmunya. Tapi masih tetap harus belajar,” katanya.

Nah, alasan memilih budi daya melon karena melon merupukan buah yang sering dikonsumsi masyarakat. Baik dimakan langsung atau diolah minuman lainnya. Tentunya peluangnya lumayan besar.

Apalagi, jenis melon yang dibudidayakan oleh Ahmad bukan sembarangan. Dia memilih melon kualitas premium. Yang pasti dari segi harga jauh berbeda dari melon nonpremium. “Pastinya kualitas dan rasa menentukan harga ya. Silakan rasakan sendiri,” katanya lantas tersenyum.

Ada tiga jenis melon premium yang dibudi dayakan. Yakni, sweet net impor, Inthanon, dan honey globe. Selama ini, bibit-bibit melon premium itu dia dapat secara impor.

Dalam sekali panen, Ahmad bisa menghasilkan melon premium sekitar 1.500 kilogram atau 1,5 ton. Dalam setahun, dia rata-rata bisa panen 4-5 kali tergantung kondisi cuaca.

“Siklus tanaman melon itu hanya berbuah sekali dalam waktu dua bulan. Kemudian, tanam bibit baru lagi,” jelasnya.

Berat satu buah melon premium rata-rata mencapa 1,2 kilogram. Semakin manis melon, maka harga makin mahal. Harga melon premium yang dibanderol berkisar Rp 25 ribu per kilogram. “Karena itu, sebelum panen, saya ada tes tingkat kemanisan. Jadi, ada alat untuk mengukurnya,” terangnya.

Terkait pemasaran, sementara Ahmad mengandalkan jaringan sesama petani melon hidroponik. Kini, dia sudah punya pelanggan tetap yang memborong melonnya. “Jadi khusus melon premium ini pasarnya memang beda ya. Biasanya dijual di supermarket-supermarket,” ujarnya.

Selain penjualan secara langsung, Ahmad juga memanfaatkan lewat sarana edukasi untuk pemasaran. Terkadang, setiap seminggu sekali, dia membuka kelas edukasi menanam hidroponik di greenhouse. Sasarannya instansi perkantoran maupun sekolah.

Meski menjual melon dalam skala besar, Ahmad tetap melayani pembeli perorangan. Sebagian dari hasil panen dia sisihkan untuk konsumen perorangan. “Kalau saya hanya melayani pembeli perorangan tentu tidak mungkin. Waktunya tidak cukup jika dijual perorangan. Buahnya keburu busuk,” akunya.

Sementara ini, pasar penjualan melon Ahmad masih di wilayah Jabodetabek. Dia memiliki tengkulak langganan yang memasarkan buahnya ke luar daerah. Karena melon bukan buah musiman, sehingga buahnya selalu tersedia pasaran. “Makanya harganya cenderung stabil,” pungkasnya. (*/c1/din)

Editor : M. Subchan Abdullah
#pasangan #warga #jakarta #hidroponik #buah #selopuro #Kabupaten Blitar #Melon #Adcha Ahmad Mubarok #pasutri #Melon Premium #Dwi Irawati #greenhouse #petani muda #Ibukota #suami istri