UMKM Kabupaten Blitar Alami Pertumbuhan Positif, Dinas Sebut karena Faktor Ini
Fajar Rahmad Ali Wardana• Selasa, 15 April 2025 | 04:05 WIB
BERGELIAT: Produk-produk UMKM di Kabupaten Blitar terus mengalami kenaikan.
BLITAR – Pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Blitar menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. Setelah pada 2024 menargetkan 195 UMKM naik kelas, tahun ini targetnya meningkat menjadi 200 UMKM.
“Target tahun ini sekitar 200. Hal ini seiring dengan perkembangan UMKM di Kabupaten Blitar terus naik. Tentu tiap tahun jumlah UMKM di Kabupaten Blitar terus meningkat,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMK Kabupaten Blitar, Sri Wahyuni.peper
Dia melanjutkan, berdasarkan data 2022, jumlah UMKM di Kabupaten Blitar tercatat 34.694 unit. Meski data 2025 belum dirilis secara resmi, Sri menyebut angka UMKM mencapai lebih dari 50 ribu unit. Memang naiknya signifikan, salah satunya karena sektor makanan-minuman dan kerajinan batik yang pertumbuhannya luar biasa.
Di sejumlah kecamatan seperti Talun, Kanigoro, Wlingi, dan Srengat, geliat UMKM makin terasa. Bahkan, setiap desa mulai digerakkan untuk memiliki sektor usaha unggulan masing-masing.
Dia menjelaskan, lonjakan pertumbuhan UMKM juga dipengaruhi oleh tingginya minat masyarakat untuk menjadi wirausaha pascapandemi. Sebab, saat Covid-19, banyak terjadi PHK dan masyarakat akhirnya memilih berwirausaha. UMKM jadi garda depan untuk menopang ekonomi Kabupaten Blitar.
“Meski anggaran APBD terbatas, pemberdayaan UMKM tetap dilakukan secara berkala. Tahun lalu lebih dari 1.000 pelaku UMKM dibina dinas. Angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun,” ungkapnya.
Pelatihan dilakukan dinas koperasi dan UMK meliputi kewirausahaan, peningkatan kualitas produk, hingga pemasaran online maupun offline. Pihaknya juga bekerja sama dengan Bank Indonesia, OJK, Mercy Corps, hingga Polinema dalam penyampaian materi dan pengujinya.
Selain pelatihan tatap muka, dinas koperasi dan UMK juga menyiapkan pendampingan melalui program Link UMKM, yang siap terjun langsung ke lapangan untuk membantu pelaku usaha.
“Untuk tahun ini, meski terjadi efisiensi anggaran, pelatihan tetap digelar secara optimal. Sebab yang kami kurangi itu hanya di bagian bantuan transportasi peserta. Dari semula Rp 75 ribu per orang, kini dikurangi beberapa persen. Tapi pelatihannya tetap jalan,” pungkasnya.(jar/c1/din)