BLITAR - Usaha Binti Zulaikah memang belum begitu besar. Namun, warga Desa Kendalrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar ini menolak pasrah. Kini dia mampu membuat emak-emak di sekitar rumahnya lebih produktif, dan terpenting bisa membantu suami menambah belanja untuk keluarga.
Aroma gurih kacang goreng menyeruak dari salah satu rumah di Desa Kendalrejo, Kecamatan Srengat. Di rumah Binti Zulaikah itu, beberapa perempuan tampak sibuk memilah dan menimbang kacang dalam ruangan packing yang tidak begitu besar. Dari tempat ini juga terdengar keseruan di ruang produksi yang letaknya di bagian belakang rumah berhalaman luas tersebut.
Ya, dapur selalu menjadi tempat tersibuk. Di ruang produk kacang sanghai ini tepung beterbangan memenuhi ruangan. Butiran putih halus itu menempel di tangan dan wajah para pekerja. Sekilas ruangan itu tampak seperti wahana salju. Di tengah kesibukan itu, Binti Zulaikah—ibu muda yang juga pemilik usaha—mengawasi satu per satu proses dengan cermat.
Binti bukan pengusaha berlatar belakang pendidikan bisnis. Dia adalah ibu rumah tangga (IRT) biasa yang sejak 2016 memutuskan untuk tidak sekadar menunggu jatah uang dari suami. Keinginannya sederhana, bisa mandiri dan punya penghasilan dari tangan sendiri.
“Waktu itu saya hanya punya modal lima ratus ribu rupiah. Kompor dan wajan pun pinjam dari orang tua,” kenangnya sambil tersenyum.
Bermodal alat pinjaman itu, Binti mulai mencoba-coba membuat kacang sanghai, camilan gurih yang dibalut tepung dan digoreng garing. Namun perjalanan untuk menemukan rasa yang pas tidak mudah. Perlu waktu tiga tahun untuk menemukan racikan bumbu yang menurutnya sesuai dengan lidah masyarakat Blitar dan sekitar.
“Sudah tak hitung berapa kali gagal. Kadang terlalu asin, kadang hambar, atau tepungnya terlalu tebal. Tapi saya terus coba,” katanya.
Tantangan terbesar bukan hanya soal rasa, tapi juga soal pemasaran. Di awal, Binti mengandalkan sistem titip jual (konsinyasi), berkeliling dari satu toko ke toko lain di wilayah Srengat dan sekitarnya. Sayangnya, banyak toko yang enggan menerima produknya.
“Ditolak itu rasanya menyakitkan. Saya sampai sempat berhenti, malas keluar rumah lagi karena sering ditolak,” ujarnya.
Kesulitan juga datang dari sisi logistik. Karena hanya punya sepeda motor, Binti harus menyewa angkutan kota untuk membeli bahan baku ke luar daerah. Barang belanjaan yang banyak tak bisa ditampung di motornya.
Baca Juga: Lebih dari 300 Kilometer Jalan Milik Kabupaten Blitar Rusak, Dinas PUPR Hanya Bisa Bilang Begini
“Di rumah jarang ada laki-laki. Angkutan juga tidak mau mengantar sampai dapur dan diturunkan di pinggir jalan. Jadi mau tak mau ngangkat karung tepung sendiri,” kenangnya.
Lambat laun, roda usaha Binti mulai bergerak. Kini, dia memiliki langganan tetap yang secara berkala mengirimkan bahan baku ke rumah. Dia juga tidak lagi bekerja sendirian. Beberapa perempuan dari sekitar rumah ikut bergabung membantunya—mereka bekerja di ruang produksi dan packing, yang kini nyaris tak pernah sepi.
“Senang bisa melibatkan tetangga. Mereka ibu-ibu juga, dan bisa punya penghasilan tambahan,” tutur Binti.
Perubahan juga tampak dari kemasan produknya. Dulu, kacang sanghai Binti hanya dibungkus plastik polos dengan label kertas yang dimasukkan dalam kemasan kacang sanghai. Kini, dia sudah menggunakan sablon dan menyediakan kemasan toples untuk pasar yang lebih luas.
“Dulu adik yang bantu nyablon. Sekarang sudah ada yang tukang sablon sendiri,” katanya.
Menurut Binti, menentukan kemasan yang cocok untuk pasar bukan perkara mudah. Dia sempat mencoba berbagai jenis sebelum akhirnya menemukan bentuk dan ukuran yang paling sesuai untuk pelanggan.
Dari semua pencapaian itu, Binti tak menyebut dirinya sukses. Tapi dia tahu bahwa kerja keras dan keberanian untuk mencoba telah membawanya jauh dari titik awal. Di balik renyahnya kacang sanghai yang diproduksi, tersimpan semangat seorang perempuan yang menolak untuk menyerah pada keadaan.
“Bagi saya, usaha ini bukan hanya soal uang. Tapi soal semangat untuk lebih bermanfaat,” ucapnya pelan, sembari menepuk sisa-sisa tepung di lengan bajunya. (*/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah