BLITAR - Prasasti Cemandi di Dusun Cemandi, Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, hingga kini masih terawat. Namun, sejumlah tulisan di benda bersejarah tersebut sudah pudar dan membuat minim misteri yang terungkap di lokasi itu.
Makam para aulia Cemandi di berada di tengah-tengah kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Kamal dan sejumlah lembaga pendidikan. Sepintas akan tertutup deretan gedung untuk para santri dan siswa menimba ilmu.
Namun demikian, makam itu tetap terlihat. Sebab berbeda dengan rata-rata bangunan berbentuk asrama dan rumah warga yang merupakan para pengasuh ponpes kondang di Blitar ini.
Saat masuk ke area makam, ada gapura kecil sebagai penanda jika kawasan itu merupakan makam yang sudah lama.
Ada deretan makam-makam tua di lokasi yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Di antara makam-makam itu, ada satu sosok makam di tengah bangunan cungkup.
Kondisi cungkup memang tidak begitu besar, tetapi makam yang satu ini terjaga dan bersih serta berlantai keramik. “Makam ini merupakan makam dari Auliya Cemandi yang dikenal sebagai tokoh Mbah Imam Hambali bin Ahmad atau Ki Jallaalean atau Mbah Sumare,” terang pengelola makam, Sobari.
Pria yang juga pengasuh ponpes ini mengaku bahwa dulu prasasti Cemandi ini dari orang yang sudah melakukan penelitian terkait pengairan untuk pertanian. Namun, dia tidak begitu paham secara detail. “Ada catatan dari peneliti waktu itu, tapi sekarang tidak ada setelah saya cari,” terang pria 50 tahun.
Dulu, prasasti ini ditemukan di cekungan yang ada air. Lantas diangkat beberapa tahun lalu. Setelah itu dibuat nisan untuk makam tokoh tersebut.
Dia mengaku tidak tahu persis terkait sejarah prasasti. Berdasra tutur pitutur, di sebelah utara makam ada air.
Selain itu, benda-benda kuno dulu ada banyak. Namun keberadaannya entah ke mana karena memang belum ada perawatan secara rutin.
Meski demikian, makam masih sering dikunjungi warga tertentu untuk ziarah kubur. “Kalau yang ziarah tetap ada,” terangnya.
Dari pengalaman selama merawat makam, ada yang menarik. Yakni saat membangun cungkup harus menggunakan paku emas. Sebab, beberapa paku telah dicoba dan tidak bisa menegekkan tiang.
Selain itu, ada petugas yang memperbaiki atap rusak tetapi tidak bisa. Yang bersangkutan pun memutuskan wudu terlebih dahulu agar bisa memperbaiki atap yang bocor. “Kalau saya tidak pernah mengalami yang tidak akan berbicara,” pungkasnya.
Untuk diketahui, menurut catatan R Ouddheidkundig Onderzoek, tahun 1908 ditemukanlah prasasti Cemandi yang berasal dari masa Kerajaan Panjalu Kediri 1180 Masehi.
Prasasti Cemandi sebelumnya terpendam dalam tanah. Pada 28 Juni 2021, sejumlah pemuda yang tergabung di komunitas lintas sejarah Karesidenan Kediri berusaha menggali untuk menyelematkan benda bersejarah tersebut.
Warga sekitar sempat tidak mengetahui bahwa batu tersebut merupakan dokumen penting pada masa kerajaan dulu. Meski ada guratan hasil pahatan, kondisinya kini juga tidak bagus. Sebagian besar sudah aus.
Untungnya, tak jauh dari lokasi batu ini ditemukan ambang pintu prasasti. Di sana masih terdapat huruf yang jelas. Bertuliskan tanggal pembuatan 1034 Saka atau 1112 Masehi. Ini juga baru diketahui ketika gabungan komunitas lintas sejarah Karesidenan Kediri untuk membersihkan batu tersebut.
Diyakini, prasasti tersebut merupakan peninggalan pada masa raja kedua Kediri. Yakni, Raja Brameswara. Tak hanya itu, mereka optimistis prasasti itu berusia tua. Termasuk ketika dibandingan dengan Prasasti Pandeglan I yang ditemukan di Desa Pikatan. Pada prasasti tersebut tertera tahun 1038 Saka, sedangkan pada prasasti yang ada di Desa Karanggayam tertera 1034 Saka atau berselisih empat tahun.
Ada banyak benda-benda peninggalan kerajaan di Kabupaten Blitar. Namun, kemungkinan kini masih terbengkalai atau belum mendapatkan perhatian. (*/c1/din)
Editor : M. Subchan Abdullah