BLITAR - Berawal dari seorang pedagang kain di Pasar Legi, Kota Blitar hingga saat pandemi melanda sempat gulung tikar. Dari warisan antik mertua, kemudian mencoba jual beli mebeler kayu antik, hingga menjadi langganan dan jujukan para penyuka kursi, meja, lemari, dan berbagai pernak-pernik antik berbahan kayu dari luar kota.
“Kemarin baru saja salah satu pengusaha dari Pulau Dewata yang asli Belanda datang ke sini. Mau melihat-lihat barang-barang yang ada di rumah,” jelas Yudha Hadiyanto, saat dikunjungi Koran ini beberapa waktu lalu, di rumahnya yang merupakan bengkel sekaligus galeri tempat menyimpan aneka mebeler antik khusus terbuat dari aneka jenis kayu.
Yudha, sapaan akrab warga Jalan Kelud, Kelurahan Kepanjenlor, Kecamatan Kepanjenkidul ini menuturkan, kondisi pandemi membuat hampir sebagian besar pelaku usaha kecil terdampak. Terkecuali bagi dirinya yang saat itu membuka salah satu kios kain batik di Pasar Legi, Kota Blitar.
“Ya, saat itu memang saya jualan di Pasar Legi, lalu gulung tikar. Bingung, akhirnya ikut mertua untuk mencari berbagai mebeler antik dari kayu. Ternyata cukup baik prospeknya, karena jadi langganan pengusaha asal Bali, Jogjakarta, hingga bandung,” ujar bapak dua anak ini.
Melihat peluang itu, aku Yudha, kemudian mencoba melihat serta memperhatikan bagaimana cara kerja sang mertua dalam melakukan transaksi dan mencari pelanggan. Ternyata saat itu beberapa mebel antik berupa kursi dan meja tidak laku terjual karena kondisinya yang rusak. Padahal, mebel tersebut terbuat dari kayu jenis jati yang sudah cukup tua.
“Dari mengikuti mertua, melihat bagaimana cara mencari pelanggan, transaksi, dan lain-lain. Lalu, saya mencoba memperbaiki beberapa kursi dan meja yang kondisinya saat itu rusak. Dari itu, saya mulai melakukan reparasi kursi dan meja kayu lama,” aku pria 46 tahun ini.
Awalnya sempat menghadapi kesulitan, ujar dia, karena untuk memperbaiki harus mencari kayu lain sebagai pengganti. Untungnya beberapa kayu bekas dari lemari, bangku, meja, dan kursi yang sudah rusak parah dan tidak bisa diperbaiki, bisa diambil beberapa bagian kayunya yang utuh. Kemudian dipasang pada meja-kursi yang kondisinya masih bisa diperbaiki.
“Awalnya saya sulit cari bahan yang pas untuk kayu yang rusak. Untungnya saya punya bahan dari beberapa perabot lain yang juga dari kayu. Jadi, saya ambil dan pasang di kursi yang rusak. Kemudian dipernis agar warnanya sama. Kebetulan untuk kayu, untuk jati yang sudah lama, warnanya pasti lebih mirip,” bebernya.
Setelah itu, beberapa langganan sang mertua mulai memperhatikan dirinya. Beberapa mulai memesan perabotan rumah tangga dari kayu. Kebetulan dirinya mulai mengenal beberapa pengepul barang-barang antik yang selalu menyediakan berbagai perabot kayu. Kini, rumahnya menjadi bengkel reparasi sekaligus galeri perabot antik dari kayu.
“Setelah itu, usaha pelan-pelan jalan. Dari mertua saya dan beberapa pengusaha penyuka perabot antik dari kayu. Beberapa kali ada bule yang datang dan beberapa perabot antik kayu dibawa ke luar negeri,” tegasnya.
Untuk harga, nilainya tentu sesuai dengan kepintaran dalam tawar-menawar. Karena barang antik nilainya bisa tinggi ketika memang dicari pembeli, tapi terkadang ada juga yang harganya tinggi karena sejarah atau modelnya. “Ya, banyak sudut pandang. Yang penting harus pintar melihat keaslian barangnya,” tutupnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah