BLITAR – Pertemuan potensi ekonomi masyarakat di wilayah Kabupaten Blitar bagian timur, salah satunya terjadi di Pasar Templek, Desa Ploso, Kecamatan Selopuro.
Aneka jajanan tradisional yang diproduksi masyarakat setempat menjadi produk unggulan yang bisa dijumpai dalam transaksi sehari-hari. Situasi itu membuat roda perekonomian UMKM desa setempat terus bergeliat dan bahkan mereka memiliki sebuah paguyuban.
Kekompakan para anggota, gotong royong, hingga kejujuran, menjadi kunci perekomian masyarakat yang bergerak di bidang UMKM terus bertahan. Aneka jajanan tradisional yang bisa ditemui antara lain, bikang, cucur, dadar gulung, klepon, kue lumpur, kue pukis, lemper, lumpia, mendut, nagasari, onde-onde, plenggong, putu ayu, risoles, roti kukus, dan lainnya.
“Semakin pagi, semakin lengkap pilihannya. Cocok untuk mereka yang rindu dengan aneka jajanan tradisional, cucur salah satunya,” ujar Sukarti, salah satu pelanggan setia Pasar Templek.
Seperti diketahui, kawasan Pasar Templek menjadi lokasi transaksi dan rumah bagi anggota Paguyuban Sari Roso. Selama ini, mereka fokus memproduksi aneka jajanan tradisional.
Dari Desa Ploso, aneka jajanan tradisional tersebut menyebar ke berbagai pasar tradisional lainnya di wilayah Blitar Raya dan sekitarnya. Di luar Desa Ploso, jajanan tradisional dari Pasar Templek ini dikenali dari rombong bagian pemasaran yang menggunakan sepeda motor.
Di Pasar Templek, produsen jajanan tradisional dengan mereka yang fokus bagian pemasaran bertemu. Transaksi berlangsung setiap pagi dan setidaknya ada sebanyak 150 keluarga yang fokus menjadi produsen aneka jajanan tradisional. Selain itu, sebanyak 50-an warga Desa Ploso, yang fokus menjualnya di berbagai tempat. Paguyuban yang beranggotakan masyarakat Desa Ploso ini sudah aktif sejak 2012 lalu. (ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah