BLITAR – Sejak Januari 2025, Five Seodisa Adha resmi menjabat sebagai Pimpinan Bank Jatim Cabang Blitar. Sosoknya mungkin belum lama dikenal masyarakat Blitar. Namun, di dunia perbankan, nama Five sudah malang melintang selama lebih dari dua dekade.
Perempuan dengan latar pendidikan arsitektur ini membuktikan bahwa konsistensi, kerja keras, dan semangat belajar bisa membawa seseorang menapaki tangga karier dari bawah hingga ke puncak.
Five lahir dari keluarga petani di Kediri dan terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Orang tuanya tak membedakan peran berdasarkan jenis kelamin. Dia diajari bertani, mulai menamam benih padi hingga cara membuat irigasi sederhana untuk mengairi tanaman tersebut.
“Tidak hanya tandur pari, nggawe galengan dan mindahi selang air sudah biasa saat remaja dulu,” katanya.
Urusan otomotif juga bukan hal baru bagi perempuan 48 tahun ini. Sejak SMP, Five sudah diajari mengendari mobil oleh orang tuanya. Tak sebatas sistem operasional kendaraan, dia juga menerima pelajaran mengenai komponen-komponen penting kendaraan hingga cara mengganti ban.
“Ojo mung numpak tok, yo kudu ngerti ngene iki,” ucap Five, menirukan pesan orang tuanya.
Sejak kecil, orang tuanya selalu menekankan bahwa perempuan harus mandiri, bahkan ketika sudah berkeluarga. Tidak hanya menggantungkan hidup dari suami, perempuan harus bisa mencukup kebutuhan sendiri. “Mbuh iku dodol rujak opo dodol lombok,” imbuhnya.
Sebenarnya, Five pernah bercita-cita menjadi dokter. Namun, rencana tersebut berubah karena besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menjalani pendidikan ini.
Akhirnya, dia memilih jurusan arsitektur di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Meski kini jarang digunakan, ilmu itu tetap membekas hingga sekarang.
Bahkan saat menjabat sebagai pimpinan cabang, dia juga memberi masukan desain saat kantor melakukan perbaikan ruang.
Perjalanan karier Five di dunia perbankan sangat unik. Itu bermula dari obrolan tak terduga di sebuah bus dengan seorang SPG minyak goreng Bimoli yang menyebut ada rekrutmen Bank Jatim.
Five pun mencoba peruntungannya. Proses seleksi memakan waktu tujuh bulan sejak Januari 2003 hingga akhirnya resmi diterima.
Kariernya di Bank Jatim berliku namun penuh pelajaran. Sejak bertugas pertama di wilayah Tuban, dia tercatat telah menjalani 11 kali mutasi. Dari Tuban mutasi ke wilayah Nganjuk, Jombang, kemudian ke cabang pembantu Srengat pada 2013 silam. Di tempat ini, Five promosi menjadi pimpinan cabang pembantu.
Pada 2015, Five mutasi ke wilayah Pamekasan, Wates, dan Kepanjen. Tahun 2024, dia dipromosikan menjadi pimpinan cabang di Kepanjen, dan awal 2025 dipercaya memimpin cabang Blitar.
Menjadi pimpinan bukan sekadar mengelola operasional. Tantangan terbesar, menurut Five, adalah menjaga performa perusahaan sekaligus menyiapkan generasi penerus. “Setiap generasi punya karakter berbeda. Generasi milenial, misalnya, lebih kritis dan dinamis. Kita harus mampu mendampingi mereka dengan pendekatan yang tepat,” ujar Five.
Salah satu pengalaman paling berkesan dalam kariernya adalah saat ditugaskan di Madura. Dia mengakui sempat menerima cerita bahwa masyarakat di sana keras. Namun, dia justru menemukan keramahan yang luar biasa.
“Saya bahkan masih menjalin hubungan baik dengan beberapa orang di sana, seperti istri mantan sekda dan istri mantan direktur RSUD,” ungkapnya.
Di balik semua pencapaian itu, Five tetap memegang teguh perannya sebagai seorang ibu dan istri. Dia percaya bahwa kodrat sebagai perempuan adalah menjaga kebahagiaan keluarga.
“Kami tidak bertemu setiap hari, jadi saya harus memastikan kualitas saat bersama, khususnya dengan anak-anak. Jadi bukan sekadar materi, melainkan quality time,” ujarnya.
Bagi Five, Hari Kartini bukan sekadar perayaan. Ini momen untuk mengingat bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkarya di ruang publik tanpa melupakan akar peran di rumah.
Menurut dia, peradaban dan perkembangan zaman yang semakin maju menyimpan tantangan besar yang harus diselesaikan oleh kaum hawa masa kini.
“Independent women itu harus, tapi jangan tinggalkan kodrat perempuan. Jangan mudah tergoda dengan hal yang tidak pasti. Patuhi norma-norma yang berlaku dan pentingnya adab,” tandasnya. (hai/c1/din)
Editor : M. Subchan Abdullah