BLITAR - Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini. Di media sosial, sering muncul foto perempuan berkebaya, kutipan inspiratif, atau ucapan yang penuh semangat. Tapi di balik semua itu, esensi perjuangan Kartini sering kali terlupakan.
Dia bukan hanya simbol emansipasi, tapi juga pelopor pendidikan untuk perempuan di masa ketika belajar adalah hak istimewa yang hanya dimiliki segelintir orang—terutama laki-laki. Meski zaman sudah berubah, semangat Kartini untuk memperjuangkan hak belajar masih sangat relevan sampai hari ini.
Faktanya, tidak semua perempuan Indonesia punya akses pendidikan yang sama. Berdasarkan data BPS tahun 2023, angka partisipasi sekolah (APS) untuk perempuan usia 16–18 tahun masih berada di angka 73,42%. Artinya, hampir satu dari empat remaja perempuan di usia SMA sudah tidak lagi sekolah.
Ada banyak alasan di balik angka itu: keterbatasan ekonomi, pernikahan dini, jarak sekolah yang jauh, atau bahkan tuntutan untuk ikut membantu keluarga bekerja. Meski sekolah formal kini lebih terbuka untuk semua, kenyataannya belum semua perempuan bisa benar-benar menikmatinya.
Padahal, pendidikan bagi perempuan punya dampak yang luar biasa besar. Perempuan yang mengenyam pendidikan cenderung menikah di usia lebih dewasa, lebih siap menghadapi tantangan hidup, dan punya peluang kerja yang lebih baik.
Mereka juga lebih mungkin mendidik anak-anaknya dengan pola pikir yang sehat dan terbuka. Singkatnya, saat perempuan berpendidikan, seluruh generasi ikut terangkat kualitasnya. Pendidikan tidak hanya memberdayakan secara individu, tapi juga memperkuat fondasi sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
Sayangnya, masih banyak stereotip yang melekat di sekitar kita. Misalnya, anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena “ujung-ujungnya ke dapur juga.” Pemikiran seperti ini tidak hanya membatasi ruang gerak perempuan, tapi juga menghambat kemajuan bangsa.
Padahal, belajar bukan soal siapa yang lebih pintar, tapi soal siapa yang diberi kesempatan untuk berkembang. Perempuan berhak untuk merancang hidupnya sendiri, dan pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu menuju masa depan yang lebih cerah.
Menjadi Kartini masa kini tidak harus tampil formal atau bergerak di panggung besar. Kamu bisa menjadi Kartini dengan cara yang sederhana: terus belajar, saling menguatkan sesama perempuan, menyebarkan informasi bermanfaat, atau mendukung akses pendidikan yang setara.
Sekecil apa pun kontribusinya, setiap langkah menuju kemajuan itu berarti. Hari Kartini bukan sekadar momen seremonial, tapi ajakan untuk terus bergerak. Karena perjuangan Kartini belum selesai, dan generasi kita lah yang bisa melanjutkannya. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah