Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Lebih dari Sekadar Sekolah: Inilah Alasan Pendidikan Perempuan Harus Jadi Prioritas

Ifa Ma'rifatul Maula • Rabu, 23 April 2025 | 04:00 WIB
Lebih dari Sekadar Sekolah: Inilah Alasan Pendidikan Perempuan Harus Jadi Prioritas
Lebih dari Sekadar Sekolah: Inilah Alasan Pendidikan Perempuan Harus Jadi Prioritas

BLITAR - Setiap kali tanggal 21 April tiba, nama Kartini kembali mengisi linimasa. Tapi lebih dari sekadar kebaya dan unggahan bertagar #HariKartini, warisan terbesar beliau sesungguhnya adalah satu kata sederhana, yaitu pendidikan.

Di masa saat perempuan bahkan tak dianggap layak membaca buku, Kartini justru menulis surat-surat penuh gagasan tentang pentingnya ilmu bagi perempuan.

Kini, lebih dari seabad kemudian, kita hidup di zaman dengan internet, universitas terbuka, dan seminar gratis di mana-mana. Namun, benarkah semua perempuan Indonesia sudah benar-benar merdeka dalam hal pendidikan?

Pendidikan tidah hanya soal datang ke sekolah, duduk manis, lalu lulus. Pendidikan adalah akses untuk bertanya, memahami, dan membentuk cara pandang. Dan untuk perempuan, pendidikan bisa jadi jalan keluar dari lingkaran kemiskinan, kekerasan, hingga ketidakadilan yang sering dianggap "biasa".

Data dari BPS tahun terakhir menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah perempuan usia 16–18 tahun masih di bawah laki-laki, terutama di wilayah pedesaan dan daerah timur Indonesia. Bukan karena mereka malas, tapi karena kesempatan itu tidak selalu datang.

Penelitian membuktikan bahwa perempuan yang mendapatkan pendidikan tinggi cenderung menikah di usia lebih matang, punya penghasilan sendiri, dan berkontribusi lebih besar dalam pengambilan keputusan rumah tangga.

Bahkan, UNICEF mencatat bahwa anak dari ibu yang berpendidikan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk bertahan hidup, tumbuh sehat, dan melanjutkan pendidikan lebih lama.

Baca Juga: Apresiasi Panen Raya Padi Sehat Kelurahan Klampok, Pemkot Blitar Siap Jadikan Program Daerah

Artinya, ketika satu perempuan belajar, dampaknya bukan cuma ke dirinya tetapi ke seluruh ekosistem di sekitarnya. Dari anak, keluarga, hingga komunitas. Pendidikan itu menular, dan seorang ibu yang memiliki akses pada ilmu adalah yang paling kuat menularkannya.

Sayangnya, masih banyak perempuan Indonesia yang harus “berdamai” dengan nasib. Beberapa dari mereka dipaksa menikah muda karena desakan ekonomi atau norma keluarga.

Ada juga yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena jarak, biaya, atau sekadar karena jadi anak perempuan. Di sisi lain, perempuan yang sudah sekolah pun kadang masih dibatasi secara sosial dengan dianggap terlalu ambisius, terlalu vokal, atau terlalu pintar.

Di era serba daring, literasi digital menjadi modal penting. Tapi banyak perempuan, terutama di daerah tertinggal, yang belum mendapat kesempatan untuk melek teknologi yang pada akhirnya memperlebar kesenjangan.

Baca Juga: Perempuan Muda Jebolan Diajeng Kota Blitar Ini Bicara Sosok Kartini Masa Kini: Harus Berdaya, dan Berani Bersuara

Kartini masa kini bukan hanya yang berdiri di podium atau layar TV. Dia bisa saja seorang siswi SMA yang harus menempuh perjalanan dua jam demi sekolah.

Seorang ibu rumah tangga yang belajar coding dari YouTube di sela mengurus anak. Atau mahasiswi yang menulis esai tentang hak perempuan di kampus kecil di pelosok negeri. Mereka semua adalah Kartini karena semangatnya tetap satu, yaitu menolak diam, dan terus belajar. (*)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#Perempuan Berdaya Indonesia Maju #Hari Kartini 2025 #pendidikan #Hari Karitini