Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menengok Kelurahan Klampok di Kota Blitar yang Bersiap Jadi Lumbung Pangan: 90 Persen Warga Petani

M. Subchan Abdullah • Kamis, 24 April 2025 | 21:40 WIB
SWASEMBADA PANGAN: Hamparan sawah yang ditanami padi sehat di Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan siap panen raya, Minggu (20/4/2025).
SWASEMBADA PANGAN: Hamparan sawah yang ditanami padi sehat di Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan siap panen raya, Minggu (20/4/2025).

BLITAR - Kelurahan Klampok memiliki potensi jadi lumbung pangan. Letaknya berada di pinggiran Kota Blitar. Kelurahan di ujung selatan kota ini diklaim memiliki lahan pertanian terluas dengan total 130 hektare.

Lahan persawahan itu terhampar luas di sebelah timur Kantor Kelurahan Klampok, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Lahan seluas kurang lebih 12 hektare itu ditanami padi. Sejauh mata memandang tampak tanaman bernama latin Oryza sativa ini sudah menguning. Tanda padi siap panen.

Ya, hingga beberapa bulan ke depan, Blitar Raya mengalami panen raya padi. Termasuk di wilayah Kelurahan Klampok. Para petani berharap panen raya tahun ini meningkat dan membawa dampak positif bagi kesejahteraan petani.

Terlebih, panen raya di wilayah Kelurahan Klampok. Kelurahan yang memiliki lahan pertanian terluas di Bumi Bung Karno. Total luas lahannya tercatat mencapai 130 hektare.

Tak salah jika Kelurahan Klampok disebut sebagai wilayah lumbung pangan. Hampir sebagian besar warga di kelurahan paling selatan kota ini menjadi petani. “Ya, sekitar 90 persen adalah petani. Bahkan, mereka ini dari berbagai latar belakang profesi lho,” ungkap Lurah Klampok, M Caesar Alfonso, Kamis (24/4/2025).

Menurut lurah muda ini, sebagian petani di Kelurahan Klampok bukan murni mencangkul di sawah untuk mata pencaharian sehari-hari, melainkan sebagian merupakan pekerja swasta di beberapa perusahaan atau instansi. “Ya, mereka itu ada yang kerja di rumah sakit, di bank, guru, bahkan instansi pemerintahan atau seorang ASN,” terangnya.

Biasanya, aktivitas bertani mereka lakukan seusai pulang dari bekerja. Mulai dari menggarap lahan, merawat tanaman, pemupukan hingga panen. Bagi warga Klampok, bertani justru menjadi pekerjaan pokok.

Di Klampok terdapat enam kelompok tani (poktan) yang mengelola lahan pertanian. Namun, ada poktan yang menarik perhatian karena mempunyai terobosan di bidang pertanian. Ya, tiga dari enam poktan menerapkan tanam padi sehat.

Ketiga poktan ini menerapkan teknik tanam padi semiorganik. Padi yang dihasilkan diklaim lebih sehat dan berkualitas. Salah satu poktan yang menerapkannya yaitu Poktan Barat Makam.

Pada Minggu (20/4) lalu, Poktan Barat Makam ini sukses melaksanakan panen raya padi sehat. Total ada 12 hektare yang siap dipanen. Jenis padi yang dipanen adalah Mapan 55.

Caesar mengungkapkan, padi sehat yang dipanen ini belum seluruhnya dari total 130 hektare luas lahan pertanian di Klampok. Tiga dari enam poktan yang ada telah menerapkan budi daya padi sehat. “Ini masih poktan barat makam, belum lainnya,” ungkapnya.

Baca Juga: Umat Katolik Blitar Gelar Misa Rekuiem, Doakan Paus Fransiskus yang Wafat

Sebanyak 12 hektare tersebut mampu menghasilkan sekitar 60 ton beras. Jika ditotal, hasil panen di seluruh lahan makam menghasilkan kurang lebih 650 ton beras. “Hasil ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi warga Klampok. Bahkan cukup untuk cadangan dua tahun ke depan,” ujarnya.

Dengan hasil tersebut, bisa jadi Kelurahan Klampok siap untuk swasebada pangan. Klampok bisa menjadi kelurahan yang mampu mewujudkan program pemerintah tersebut.

Memang tak dipungkiri, letak Klampok yang berada di wilayah pinggiran dan berbatasan dengan Kabupaten Blitar memiliki lahan pertanian yang mumpuni. Kondisi itu tentu mendukung program pemerintah daerah maupun pusat di bidang pertanian.

Ketua Poktan Barat Makam, Nur Rozik menjelaskan, padi sehat yang dihasilkan merupakan budi daya melalui teknik semiorganik. Poktan memanfaatkan pupuk organik dan kimia dengan perbandingan 70/30. “Artinya, 70 persen pakai pupuk organik dan 30 persen pupuk kimia,” ujarnya, saat panen raya padi sehat pada Minggu (20/4) lalu.

Menggunakan padi jenis Mapan 55, padi yang dihasilkan tidak kalah dengan padi yang hanya memanfaatkan pupuk kimia. Bahkan, padinya diklaim lebih sehat dan harganya bisa bersaing. “Untuk harga sendiri saat ini kami masih mengacu harga pasaran yang ditetapkan oleh pemerintah ya. Padi ini juga kami jual ke masyarakat. Baik perorangan maupun lewat toko-toko,” jelas pria berambut putih ini.

Menurutnya, budi daya padi dengan pupuk organik ini tidak sepenuhnya sulit. Memang jika dibanding dengan menggunakan pupuk kimia, masa tanam bisa lebih cepat. “Tetapi dengan pupuk organik, padi yang dihasilkan kan lebih sehat,” ujarnya.

Pihaknya terus berupaya sosialisasi mengenai cara budi daya padi sehat kepada poktan lainnya. Memberikan pemahaman bahwa menanam secara organik itu tidak memberatkan. “Memang harus butuh kesabaran dan telaten. Yang penting, beras yang dihasilkan lebih berkualitas,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#panen raya #kelompok tani #sawah #Padi sehat #Kelurahan Klampok #poktan #Barat Makam #Kota Blitar #lumbung pangan