BLITAR - Program pelatihan kerja yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Blitar tahun ini disambut antusias masyarakat. Tiap skema kompetensi diisi 20 hingga 25 peserta pelatihan.
Program ini dibiayai dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) senilai Rp 1,5 miliar untuk setahun. Peserta dibekali sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) hingga pengalaman magang.
Kabid Pelatihan Kerja, Produktivitas Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Latprotrans) Disnaker Kabupaten Blitar, Latip Usman mengatakan, pada pelatihan tahap pertama ini dibuka empat skema kompetensi, yaitu barista, digital marketing, make up artist (MUA), dan teknisi peralatan rumah tangga.
“Pendaftar terbanyak dari digital marketing, mencapai 383 orang. Sehingga nantinya ada batch kedua,” ujarnya.
Latip melanjutkan, pelatihan pertama yang digelar adalah barista, yang diikuti 20 peserta yang dilaksanakan di Kecamatan Kanigoro. Pelatihan ini ditutup pada Senin (28/4) lalu, dilanjutkan dengan uji kompetensi oleh tim dari BNSP Bekasi. Hasilnya, seluruh peserta dinyatakan lulus dan kompeten.
“Mereka sudah direkomendasikan lulus uji kompetensi. Setelah ini, peserta akan masuk tahapan magang, mulai 2 Mei selama lima hari di lima lokasi berbeda,” imbuhnya.
Baca Juga: Sepeda Sekolah sedang Dievaluasi, DPRD Kota Blitar Dorong Optimalisasi Bus Sekolah
Selanjutnya, pelatihan digital marketing akan dimulai 6 Mei mendatang di Rest Area Hand Asta Sih, Kecamatan Srengat, dengan jumlah peserta 25 orang. Pelatihan berlangsung selama 10 hari dan dilanjutkan magang selama lima hari. Namun, karena peminat digital marketing sangat tinggi, disnaker merencanakan membuka kelas kedua dengan kuota sama.
Secara keseluruhan, kuota peserta pelatihan tahun ini mencapai 155 orang. Peserta akan mendapat fasilitas lengkap mulai alat tulis, bahan praktik, seragam, konsumsi, transportasi, hingga biaya sertifikasi BNSP. Usai pelatihan, mereka juga disalurkan untuk magang di tempat usaha sesuai kompetensi.
Program pelatihan kerja tahun ini mengalami peningkatan anggaran dari tahun sebelumnya, yakni dari Rp 600 juta menjadi Rp 1,5 miliar. Selain dari DBHCHT, disnaker juga menerima pelatihan berbasis aspirasi masyarakat dari musrenbang dan DPRD, meski kuotanya masih dikonfirmasi.
Ke depan, disnaker juga merancang pelatihan berbasis tren lokal, seperti pelatihan teknisi sound system miniatur yang sedang digemari, hingga festival tematik, seperti festival kopi dan miniatur untuk menampilkan hasil pelatihan.
“Harapannya, pelatihan ini tidak hanya jadi teori, tapi benar-benar bisa mencetak tenaga kerja siap pakai atau bahkan menciptakan wirausaha baru,” pungkasnya. (jar/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah