BLITAR - Kondisi jalan di selatan Kabupaten Blitar hingga kini belum sepenuhnya tuntas. Termasuk di Desa Sumbersih, Kecamatan Panggungrejo, yang mengalami kerusakan parah.
Berdasarkan informasi dihimpun di lapangan, kerusakan jalan ini hingga ratusan meter dan berada di jalur vital untuk mobilisasi warga.
“Jalan sudah tidak layak dan sangat membahayakan pengendara serta anak-anak sekolah,” ungkap warga setempat Tri Evana, Sabtu (3/5/2025).
Dia mengaku, kerusakan diperkirakan sudah sekitar tiga tahun lalu. Semula memang sedikit, lama-lama tambah meluas.
Diperkirakan kerasakan ini akibat tingginya aktivitas truk bermuatan tebu maupun pasir. Sehingga aspal tak lagi kuat menahan beban.
Dari warga pernah swadaya agar kerusakan tidak tambah parah. Namun itu tidak bisa panjang dan bertahan lama.
Padahal jalur tersebut merupakan akses utama ke Pantai Peh Pulo, Kecamatan Panggungrejo, hingga SMPN di Panggungrejo.
Warga berharap dari pemerintah kabupaten (pemkab) segera melakukan perbaikan untuk kelancaran aktivitas warga.
“Banyak kecelakaan anak-anak sekolah. Jalan licin apalagi saat hujan. Jalan menanjak dan turun, jadi sangat berbahaya. Diperparah ketika malam hari lampu tidak seutuhnya bisa menerangi,” tandas perempuan 40 tahun ini.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Sumbersih Munawir Ghozali mengaku, jika kondisi jalan di desanya memang hanya sekitar 30 persen yang layak.
Untuk sisa 70 persen ini belum layak untuk akses warga biar lancar. “Sudah ada upaya dilakukan warga maupun desa,” katanya.
Dari warga dan desa sudah pernah melakukan swadaya dengan material grasak. Namun belum mampu secara keseluruhan.
Dulu pun ada dana sekitar Rp 200 juta untuk cor beton, namun belum bisa menyentuh secara keseluruhan. “Upaya akan dilakukan, agar ada solusi. Di selatan Kabupaten Blitar memang cor beton agar kuat,” ujarnya.
Apalagi nanti sekitar Juni diperkirakan ada panen tebu. Aktivitas truk akan lebih banyak, sehingga butuh jalan yang layak.
“Kalau tahun ini kami belum ada informasi untuk pembangunan dari pemkab. Usulan sudah sering lewat musyawarah rencana pembangunan (musrebang). Hasilnya belum bisa menuntaskan persoalan jalan,” paparnya. (jar/din)
Editor : M. Subchan Abdullah