BLITAR - Bagi Aisyatul Azizah, pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga soal membentuk karakter dan akhlak para anak didik.
Ya, sosok perempuan muda ini punya semangat besar dalam memajukan pendidikan keagamaan. Warga Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, ini relatif muda dan sudah menamatkan pendidikan hingga jenjang S-3.
Kini dia aktif menjadi dosen di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar sekaligus guru TPA di lingkungannya.
Hari-harinya tak jauh dari dunia pendidikan. Mulai dari mengajar anak-anak mengaji di sore hari, hingga mengampu mata kuliah Hukum Keluarga Islam di perguruan tinggi.
Namun, di balik semua kesibukannya, perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua PC Fatayat NU Kota Blitar ini memiliki harapan besar: pendidikan agama bisa sejajar porsinya dengan pendidikan umum di sekolah formal.
“Selama ini pendidikan agama porsinya sangat kecil, bahkan tak sampai 10 persen dalam kurikulum sekolah umum. Padahal pendidikan agama sangat penting dalam membentuk karakter dan moral generasi muda,” ujar Aisyatul.
Menurutnya, pendidikan agama tak boleh hanya dijadikan pelengkap atau tambahan. Dia berharap ke depan sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta, bisa menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan umum, agama, dan sosial. Baginya, inilah terobosan yang perlu diperjuangkan bersama, termasuk oleh pemerintah daerah.
Meski saat ini sudah ada TPA dan Madin sebagai tambahan ilmu agama di luar jam sekolah, Aisyatul berpendapat akan lebih maksimal jika pendidikan agama mendapat tempat yang setara di sekolah formal.
“Keseimbangan itu penting, karena pendidikan tak hanya mencetak orang pintar, tapi juga orang yang berakhlak,” tuturnya.
Perhatian pemerintah daerah selama ini dinilai sudah cukup baik. Dia mengapresiasi program insentif untuk guru ngaji dan buku kendali siswa. Namun, ada ide lain yang sedang dipikirkan. Salah satunya adalah standarisasi materi pembelajaran di TPA/TPQ.
Dia berharap ada buku panduan ajar resmi dari pemerintah, agar materi yang diajarkan di tiap lembaga bisa sama dan terarah.
“Kalau semua TPQ punya panduan ajar yang seragam, kualitas pendidikan keagamaan anak-anak akan lebih terjamin,” tegasnya.
Sebagai akademisi dan aktivis, Aisyatul percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Dia ingin generasi muda Kota Blitar tak hanya cerdas secara akademik, tapi juga kuat secara spiritual dan sosial.
“Karena jadi orang berpendidikan itu bukan cuma soal gelar, tapi soal manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (sub/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah