Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sudah Tiga Dekade Soto Lembu di Srengat Blitar Ini Masih Eksis, Anda Harus Mencicipinya

Agus Muhaimin • Minggu, 4 Mei 2025 | 22:00 WIB
LEZAT: Soto Lembu yang melegenda di wilayah Srengat, Kabupaten Blitar.
LEZAT: Soto Lembu yang melegenda di wilayah Srengat, Kabupaten Blitar.

BLITAR - Di antara arus kuliner modern yang silih berganti, ada satu sajian kuliner lawas yang tetap mengundang rasa rindu, yakni soto lembu.

Bukan sekadar soto daging biasa, soto lembu khas Srengat ini memiliki kekhasan tersendiri—baik dari bahan baku, rasa, hingga cara pengolahan yang tak mengikuti pakem resep baku.

Di balik kelezatan menu di warung Among Raos ini, berdiri nama Sumaryono atau yang akrab disapa Pak Nono, yang sejak 1997 silam setia menjaga cita rasa soto lembu di Kelurahan Kauman, Kecamatan Srengat.

“Kalau soal takaran bumbu, saya pakai feeling saja,” ungkap Pak Nono sambil tersenyum.

Dia tak pernah mencatat komposisi bahan dalam satuan gram atau sendok. Semua diracik berdasarkan intuisi dan pengalaman panjangnya meracik soto. “Kalau sudah biasa, tangan sendiri yang tahu harus seberapa,” imbuhnya.

Sekilas, tampilan soto ini memang mirip soto daging pada umumnya—kuah kental, taburan bawang goreng, seledri, dan sambal yang menggoda. Yang membedakan adalah daging yang digunakan, yakni daging lembu.

Lembu merupakan sebutan lokal untuk sapi pekerja, bukan sapi potong biasa yang diternakkan hanya untuk dikonsumsi.

“Lembu ini biasanya sapi pekerja. Tenaga sudah habis. Tapi, saya punya cara sendiri biar dagingnya empuk dan rasa kaldunya kuat,” ujar Pak Nono, tanpa membuka terlalu banyak rahasia dapurnya.

Dengan perlakuan khusus, daging lembu yang biasanya alot justru bisa lebih empuk dari daging sapi biasa. Ini sekaigus menjadi daya tarik utama bagi para penikmat soto di Blitar dan sekitarnya. Tak heran jika lapak soto lembu Pak Nono tak pernah sepi pelanggan.

Bahkan, warga Blitar yang merantau ke luar daerah pun kerap menyempatkan diri mampir saat pulang kampong. Sekadar untuk menyantap semangkuk soto yang penuh nostalgia.

“Langganan saya banyak yang sekarang tinggal di Surabaya, Jakarta, bahkan Kalimantan. Kalau mudik, pasti ke sini,” tuturnya.

Dengan harga yang hanya Rp 12 ribu per porsi, Soto Lembu Pak Nono menjadi sajian kuliner merakyat yang bisa dinikmati siapa saja. Tak ada jam buka yang kaku, soto ini bisa dinikmati kapan pun selama Pak Nono masih ada di dapur.

Soto lembu bukan sekadar kuliner, melainkan cerminan ketekunan, kearifan lokal, dan selera masa lalu yang masih dicari hingga kini.

Dalam semangkuk kuah hangat itu, tersimpan cerita tentang kesetiaan pada tradisi dan cita rasa. (hai/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#dekade #Kabupaten Blitar #soto #modern #sajian #kuliner #lembu #lezat #lawas #srengat #rasa #Eksis #khas