Konon, kondisi ini tidak lepas dari kebijakan pusat. Pasanyal, pemerintah dalam hal ini pegawai merupakan salah satu pasar bagi para produsen batik. Gelombang efisiensi mengakibatkan permintaan batik menurun.
“Geliat ekonomi di awal tahun ini memang tidak begitu bagus, apalagi dengan sejumlah kebijakan dan kondisi politik nasional yang belum stabil,” ujar owner Rumah Kinasih Blitar, Dwi Mawadati.
Dampaknya, ekosistem usaha batik ciprat ikut melemah. Apalagi, kata Dwi, pemerintah selama ini menjadi salah satu pasar penting bagi produk batik. Ketika belanja pemerintah tersendat, penjualan batik pun ikut lesu.
Untuk tetap bertahan, Dwi melakukan diferensiasi produk. Dia tak lagi menjual batik hanya dalam bentuk lembaran kain atau pakaian seperti baju. Kini, batik ciprat mulai diolah menjadi berbagai bentuk suvenir seperti pouch, tas, hingga aksesori fashion lainnya.
“Batik ciprat harus mengejar pasar lain. Kami mulai memanfaatkan marketplace dan mengejar profit di balik kuantitas produk yang terjual karena harga di pasaran sangat kompetitif,” katanya.
Meski penuh tantangan, Dwi tetap optimistis batik sebagai warisan budaya tetap memiliki banyak peminat, termasuk dari kalangan anak muda. Mereka mulai menggunakan batik ciprat sebagai bahan untuk rompi, sarung, hingga produk fashion lainnya.
“Batik ciprat ini pernah menjadi kontroversi. Karena coraknya yang berbeda dan filosofi yang tidak begitu jelas,” ucapnya.
Padahal, batik jenis ini bukan sekedar karya, melainkan juga simbol semangat dan perjuangan. Batik ciprat lahir dari tantangan mereka yang memiliki keterbatasan.
“Kami bersyukur generi muda bisa menerima hal ini. Dan sekarang banyak perajin yang juga membuat motif batik ciprat,” kata Dwi.
Tantangan lain yang dihadapi adalah keberadaan batik printing yang harganya jauh lebih murah dibandingkan batik ciprat. Batik printing bisa dijual puluhan ribu rupiah, sedangkan batik ciprat bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per lembar.
“Meski begitu, saya yakin keduanya punya pasar sendiri karena kualitasnya jelas berbeda,” ungkapnya. (hai/c1/ady)
Editor : Agus Muhaimin