BLITAR - Kesukaan terhadap seni budaya, menginspirasi sosok Nafis Aprilianto terjun dalam dunia make-up artist (MUA). Pria 29 tahun asal Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar ini juga sangat menaruh perhatian terhadap dunia traditional wedding atau pernikahan tradisional. Bahkan, sering kali ia harus mendatangi sumbernya langsung menimba ilmu dan terus belajar untuk menjawab rasa penasaran.
Pembawaannya yang menyukai tantangan dan hal-hal baru, membuat Nafis tidak mudah puas dengan berbagai ilmu, khususnya terkait seni budaya.
Bermula pada 2012 lalu, saat masih duduk di bangku kelas VIII SMPN 5 Blitar, ia bergabung dalam ekstrakurikuler seni budaya karawitan. Kala itu, ia melihat salah seorang guru yang menangani make-up teman-temannya dan sepertinya menyenangkan.
Selain itu, Nafis juga sering melihat kakak tingkat di SMKN 3 Blitar, yang menjalani praktik make-up. "Momen itu menjadi awal ketertarikan saya dalam dunia make-up," ujar alumni SDN Ngadirejo 01 ini.
Keseriusan Nafis berlanjut ketika menempuh pendidikan di SMKN 3 Blitar, jurusan kecantikan rambut. Bahkan untuk menambah pengetahuan, ia juga terjun dalam dunia modeling dan balik layarnya, termasuk make-up. Dalam perjalanannya ia mampu menambah jaringan dan melayani jasa make-up, meski diawali sebagai seorang freelancer.
Bahkan, saat kelas XI, namanya mulai dikenal orang hingga tingkat Jawa Timur ketika ikut ajang kompetisi make-up pengantin di Kota Malang pada 2014, sebagai peserta paling muda dan berhasil meraih juara I. “Dari situlah awal mula nama saya mulai dikenal banyak orang,” ungkap Nafis.
Sejak saat itu, ia mendapatkan banyak bimbingan dari para senior, karena ia dinilai punya potensi, sehingga harus terus belajar. Tidak hanya skill make-up, tapi juga public speaking, personal branding, bagaimana caranya bisa dihargai orang, hingga dikenal orang dengan baik.
Ia memetik banyak pengalaman penting, seperti menjadi seorang MUA harus sabar dan tidak boleh mementingkan ego, harus fleksibel terhadap semua orang dan bisa mengikuti alur sesuai karakter klien.
Kemudian pada 2017-2018, menjadi masa transisi dalam perjalanan karirnya, dari awalnya freelance ikut MUA lain menuju perjalanan mandiri. “2018 alhamdulillah sudah punya nama sendiri dan sudah berdiri sendiri,” ungkapnya.
Sedangkan, keseriusannya terhadap pernikahan tradisional tak lepas dari kesukaan Nafis dalam melestarikan seni budaya di tengah masyarakat. Bahkan untuk menjawab rasa penasaran terkait seni budaya yang ingin didalami, ia rela belajar dengan cara mendatangi sumbernya langsung.
Misalnya, pernikahan tradisional Jawa, ia belajar langsung ke Keraton Surakarta Hadiningrat untuk mengetahui dan memahami bagaimana prosesi hingga filosofi di balik pernikahan tradisional.
“Terus belajar dan menggali ke sumbernya langsung, tidak hanya sekedar lihat buku dan tanya-tanya senior, sebagai make-up artist kalau mau masuk ya masuk sekalian ke sumbernya langsung,” ungkap pria bernama lengkap Mochamad Nafis Aprilianto.
Tidak hanya itu, ia juga mendalami pernikahan tradisional adat Bali. Ilmu yang didapatkan dari sumbernya langsung sangat bermanfaat dalam melayani klien, karena dalam aplikasinya antara layanan MUA dan pemandu pernikahan tradisional sangat berkaitan erat. Sehingga dengan bekal tersebut, ia bisa menempatkan diri sesuai dengan porsinya.
Saat ini, untuk menambah ilmu dalam seni budaya, ia kembali mengikuti kelas tata busana dan tata rias di Keraton Surakarta Hadiningrat selama enam bulan. Sebelumnya, di tempat yang sama ia telah menyelesaikan kelas pambiwara atau master of ceremony (MC) tahun lalu.
Selain melayani klien di berbagai daerah, ia juga memiliki kapasitas sebagai narasumber pelatihan MUA. Terbaru, Nafis mendampingi peserta Literasi Beauty Class di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, mulai Senin (28/4) hingga Rabu (30/4).
Selama tiga hari, peserta diajak mendalami materi dan praktik dalam hal pembersihan dan perawatan alat make-up, kunci alis sempurna, penyelesaian make-up dan touch-up, aplikasi make-up timeless glamour look, praktik make-up, hingga melihat hasil praktik peserta dalam ajang fashion show di Auditorium Sukarno.
“Dalam pelatihan ini saya tekankan, etika itu penting sekali untuk diri sendiri dan klien, bagaimana menempatkan diri ketika bekerja,” pungkas Nafis. (*/din)
Editor : M. Subchan Abdullah