Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pelaku UMKM Kabupaten Biltar Terkendala Pemasaran, Pemkab Didorong Turun Tangan

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 6 Mei 2025 | 02:00 WIB
IKONIK: Warga menunjukkan batik khas Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.
IKONIK: Warga menunjukkan batik khas Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

BLITAR – Pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Blitar masih ada yang terkendala dengan pemasaran. Maka produksi mereka stagnan bahkan gulung tikar.

Untuk proses pendampingan dari pemerintah dianggap masih minim. Maka mereka mencari jalan sendiri untuk bisa mengembangkan usahanya. Tujuannya bisa bertahan.

“Belum pernah mendapatkan pelatihan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar. Selama ini mandiri,” terang salah satu pelaku UMKM, Rieska Widayati.

Dia mengaku sejak tahun 2019 lalu mandiri melakukan produksi pembuatan tas dari bahan bekas.

Dalam hal pelatihan hanya  belajar otodikdak. Belajar dari teman pun pernah dilakukan.

Dari sekian tahun hingga kini selalu mandiri dalam  pemasaran. Mulai dari orang terdekat hingga keluar kota.

“Produk saya pernah dititipkan di Tulungagung. Kalau akses ya cari sendiri,” kata warga Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi ini.

Dengan kemandirian selama ini belum bisa maksimal. Buktinya karyanya masih stagnan dan mulai berkurang untuk pembelinya.

Dia pun tidak ingin putus asa, dengan membuat kerajinan sesuai musiman atau yang laku. Misalkan mahar pernikahan, mukena, dan lain-lain.

Dia mengaku kini tak lagi bisa menggantungkan satu produk. Sebab untuk peminatnya belum bisa bertambah.

Dia menambah, jika beberapa kali ada pendataan, namun belum ada realisasi. “Tidak ada bantuan dari pemerintah, misalkan mesin jahit dan lain-lain, sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM,” tandasnya.

Sementara itu, pembuat batik Istiqomah mengaku, mengalami nasib sama. Karya berupa batik hingga kini belum bisa berkembang pesat.

Dia menjelaskan, selama ini ada pelatihan dari desa, namun tetap terkendala dalam hal pemasaran.

Jumlah batik laku terjual sangat minim. Padahal merupakan barang istimewa dan peninggalan budaya dari nenek moyang.

Dia tidak berani membuat  batik dalam jumlah banyak. Sebab khawatir tidak laku dan peminat kurang.

Untuk bisa bertahan, maka jumlah stok hanya 1 atau 2 lembar batik.

Dia menegaskan, jika tetap berpedoman pada ciri khas, kini sudah mulai ditinggalkan.

Selama ini hanya memenuhi permintaan konsumen sesuai dengan keinginan mereka.
“Dari pembatik membuat pola atau sesuai keinginan konsumen. Jika sepakat, lantas dikerjakan,” pungkasnya. (jar/din)                                                                                                   

Editor : M. Subchan Abdullah
#UMKM #produk #terkendala #pemasaran #srengat #kerajinan #batik #pelaku usaha #Wonodadi