Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Semangat Emak-Emak Desa Soso di Blitar Hidupkan Kembali Seni Karawitan Setelah Puluhan Tahun Mati Suri

M. Subchan Abdullah • Kamis, 8 Mei 2025 | 17:35 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Penampilan grup karawitan ibu-ibu dalam pertunjukan seni budaya Bersih Desa Soso, Sabtu (3/5/2025) pekan lalu.
NGURI-URI BUDAYA: Penampilan grup karawitan ibu-ibu dalam pertunjukan seni budaya Bersih Desa Soso, Sabtu (3/5/2025) pekan lalu.

 

BLITAR - Sekelompok emak-emak warga Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar ini tak ingin kesenian karawitan sebagai warisan budaya nenek moyang di desa punah. Mereka lantas membentuk grup baru setelah vakum lebih dari 20 tahun. Tak sekadar nguri-uri budaya, tetapi juga bagian dari hiburan dan mengisi waktu luang.

Suara tabuhan gamelan malam itu memecah kesunyian di Desa Soso. Musik khas Jawa terdengar mengalun indah. Gending-gending itu dinyanyikan begitu merdu.

Tampak perempuan-perempuan mengenakan kebaya sambil duduk bersimpuh melantunkan lagu-lagu Jawa dan dengan anggunnya sesekali menggoyangkan tubuh. Penampilan mereka disaksikan langsung oleh warga setempat.

Mereka adalah emak-emak yang tergabung dalam grup Karawitan Laras Budaya asal Desa Soso, Kecamatan Gandusari. Sebagian besar dari mereka merupakan ibu rumah tangga, bahkan ada yang sudah lanjut usia (lansia).

“Hampir semua anggota karawitan ibu-ibu itu pemula. Tidak mengenal sama sekali dunia karawitan sehingga benar-benar saya ajari dari nol,” ucap Sunarsianto, Ketua Kelompok Karawitan Laras Budaya Desa Soso, Kamis (8/5/2025).

Grup karawitan yang beranggotakan perempuan itu memang sengaja dibentuk dalam rangka menghidupkan kembali grup karawitan desa yang pernah jaya di masanya. Kala itu, desa pernah memiliki grup karawitan perempuan yang biasa tampil di pertunjukan-pertunjukan seni budaya.

“Sejak 1986 itu ada grup karawitan ibu-ibu. Tapi baru berjalan sekitar 5 tahun, lalu berhenti karena kesibukan masing-masing anggota. Selain itu, kondisi alat gamelan juga rusak karena pakai gamelan kuno,” kenang pria 56 tahun ini.

Sejak itu, tidak ada lagi gending-gending Jawa yang dilantunkan oleh perempuan-perempuan Desa Soso. Grup karawitan emak-emak itu mati suri. Saat itu, dia berdoa dan berharap grup karawitan itu bisa bangkit kembali, tapi entah kapan.

Hingga berjalannya waktu, doa dan harapan itu akhirnya terwujud. Kemudian, pada akhir 2024 lalu, sanggar seni budaya yang dikelolanya mendapat bantuan seperangkat gamelan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim). Itu setelah pihaknya mengajukan bantuan untuk pengadaan gamelan ke pemerintah daerah setempat dan disetujui.

“Saya tak menyangka pengajuan bantuan gamelan disetujui. Ini memang niat saya ingin menghidupkan lagi karawitan dan sebagai bentuk pelestarian seni dan budaya Jawa,” ujarnya.

Lewat satu set gamelan baru itu dibentuklah grup karawitan perempuan. Awalnya, dia mengajak kaum ibu-ibu di desa setempat untuk bergabung grup karawitan.

“Siapa pun yang berminat, silakan bergabung dan tidak ada paksaan. Dan ternyata animonya cukup tinggi. Hampir 20 orang yang ikut bergabung,” terangnya.

Sebagian besar adalah pemula yang tidak mengenal dunia karawitan. Hal itu tentu menjadi tantangan bagi sanggar untuk mengasah keterampilan karawitan emak-emak ini.

Dari sejumlah warga ini, dia berencana membentuk dua kelompok karawitan. Namun, hanya sebagian yang aktif sehingga untuk sementara dibuat satu kelompok. “Dari kelompok itu, hanya satu orang yang dulu pernah ikut grup karawitan dan sudah sepuh. Pastinya sudah lupa cara main sehingga saya latih lagi,” tuturnya.

Awalnya, permainan karawitan yang dihasilkan kurang bagus. Tapi seiring waktu dan latihan rutin, para pemain bisa paham. “Di grup karawitan, mereka tidak hanya bertugas menyanyi, tetapi sebagian bermain alat musik gamelan,” beber Narsi.

Nah, di pertunjukan seni budaya bersih Desa Soso beberapa waktu lalu, mereka tampil untuk pertama kalinya. Grup karawitan ini unjuk gigi di hadapan warga desa.

Yang menarik, ada penampilan satu sosok sinden dari grup karawitan itu. Sinden itu bukan perempuan, melainkan bocah laki-laki. Penampilannya cukup memukau dan sukses menghibur lewat suara merdunya.

Lewat grup karawitan ibu-ibu itu, Narsi berharap semangat untuk melestarikan seni budaya Jawa terus membara. Ke depan, dia ingin tak hanya kalangan emak-emak yang bergabung, tetapi juga dari kalangan anak muda.

Grup karawitan emak-emak ini rutin latihan setiap Jumat malam. Keterampilan mereka dalam karawitan memang belum bagus. Namun, dengan latihan rutin, dia yakin emak-emak ini makin mahir. “Bagi saya, ini bukan sekadar nguri-uri budaya, melainkan juga hiburan bagi mereka di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga,” pungkas, lantas tersenyum. (*/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Laras Budaya #budaya #punah #Kabupaten Blitar #karawitan #vakum #emak emak #warisan budaya #Kecamatan Gandusari #grup #seni #ibu #mati suri #Desa Soso