Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cara Komunitas Setya Aksara Kenalkan Kembali Aksara Nusantara, Sasar Anak Muda di Lingkungan Sekolah

Yanu Aribowo • Senin, 12 Mei 2025 | 17:15 WIB
Yayuk Setyaningsih (kiri) dari Komunitas Setya Aksara membagikan tabel aksara dan suvenir di lingkungan SMKN 1 Blitar, beberapa waktu lalu.
Yayuk Setyaningsih (kiri) dari Komunitas Setya Aksara membagikan tabel aksara dan suvenir di lingkungan SMKN 1 Blitar, beberapa waktu lalu.

BLITAR - Mengenalkan kembali aksara Nusantara di tengah masyarakat, membutuhkan konsistensi tersendiri. Seperti dilakukan oleh Komunitas Setya Aksara, yang dijalankan Yayuk Setyaningsih bersama sang suami, Davit Maulana Musthofa.

Salah satu fokus sasaran pengenalan aksara Nusantara adalah anak-anak muda dengan harapan generasi penerus juga mengenal warisan leluhur di bidang intelektual yang luar biasa ini.

Dalam pergerakan di tengah masyarakat, Komunitas Setya Aksara mengenalkan carakan, aksara Kawi, dan aksara Nusantara lainnya. Saat ini, kegiatannya belum full, karena baru dirintis saat Yayuk pulang kampung ke Kota Blitar, usai lama bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong.

Bergelut dengan aksara Nusantara, bukan hal baru baginya. Sebab, ketika masih bekerja di Hong Kong, ia mendirikan Komunitas Sinau Aksara Nusantara Hong Kong (SANHK).

Kini ketika pulang kampung ke Kota Blitar, aksi nyata pengenalan aksara Nusantara kembali dilakukan melalui Komunitas Setya Aksara.

Kegiatannya hampir sama seperti SANHK, yakni bagi-bagi tabel aksara Nusantara dan suvenir sebagai wujud aksi nyata pengenalan ke tengah masyarakat. Sasarannya adalah anak-anak muda dengan cara terjun ke lingkungan sekolah.

Bagi Yayuk ketertarikan pada aksara Nusantara, khususnya aksara Jawa, bermula saat melihat buku Iqra Hanacaraka karya Suhadi dari Yogyakarta. Kala itu, sekitar Juni 2020 ketika masih bekerja di Hong Kong, ia penasaran dengan judul buku Iqra Hanacaraka.

Sebab, sepengetahuannya buku Iqra itu adalah buku belajar huruf hijaiyah. “Akhirnya saya membeli buku itu dan bisa terhubung dengan penulisnya via WhatsApp,” ungkap warga Kelurahan/Kecamatan Sukorejo, ini.

Saat buku Iqra Hanacaraka terkirim ke Hong Kong, langsung dipelajarinya. Bermula dari sepaket buku Iqra Hanacaraka yang berisi 5 jilid, ia semakin antusias belajar aksara Jawa.

Sekitar dua minggu dipelajari, ketika ada kesulitan ia langsung bertanya ke penulisnya dan mendapatkan penjelasan yang detail, hingga benar-benar paham.

Setelah dua bulan mendalami buku Iqra Hanacaraka dan terus berlatih menulis manual untuk mempermudah menghapal aksara Jawa, ia diarahkan penulis buku Iqra Hanacaraka bergabung dengan Grup Facebook Belajar Menulis Manual (BMM).

Dari grup tersebut, ia bertemu banyak guru aksara yang mengajari teknik menulis manual yang baik dan pengetahuan lainnya. Tak hanya tentang aksara Jawa, tapi juga aksara Nusantara lain, seperti Bali, Sunda, Lampung, Batak, Bugis, dan lainnya.

Setahun mendalami aksara Nusantara, ia memberanikan diri mendirikan komunitas Sinau Aksara Jawa di Hong Kong (SAJHK). Banyak dukungan dari teman dekat dan keluarga, namun ia sempat mengalami kesulitan saat menyosialisasikan secara langsung kepada rekan PMI lainnya.

Sebab, waktu para PMI banyak digunakan untuk bekerja dan ketika hari libur banyak dimanfaatkan untuk bersantai. Komunitas SAJHK didirikan 8 Agustus 2020 dan didaftarkan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong.

Pada Desember 2020, ia sempat presentasi ke bagian Penerangan dan Sosial Budaya (Pensosbud) KJRI Hong Kong. Momen tersebut membuat SAJHK dikenal lebih luas di kalangan PMI dan komunitas lain di Hong Kong.

Kala itu, kegiatan SAJHK adalah sosialisasi secara langsung pada Minggu saat libur kerja dan secara online di berbagai media sosial.

Tiga tahun berjalan, pada 2023 ada masukan seorang guru aksara agar mengganti nama komunitas menjadi SANHK, dengan harapan bisa menggandeng teman-teman dari luar Jawa.

“Kegiatan SANHK juga masih sama, yaitu sosialisasi dan menghadiri beberapa undangan dari KJRI Hongkong dan komunitas lainnya,” ungkap perempuan 39 tahun ini.

Pada Februari 2025, kontrak kerja Yayuk sebagai PMI sudah tuntas dan ia memutuskan pulang kampung untuk mendampingi sang anak yang mau masuk SMA.

Sebelum pulang kampung, pada 25 November 2025, ia bersama sang suami sudah mempersiapkan komunitas Setya Aksara untuk melanjutkan kegiatan selama bergelut bersama SANHK. Yakni, sosialisasi, sinau, dan produksi karya-karya aksara, seperti kaus, tote bag, dan lainnya.

“Saya pulang ke Kota Blitar akhir Februari 2025 dan setelah Lebaran, kegiatan Setya Aksara yang pertama kali adalah bagi-bagi tabel dan suvenir di beberapa sekolah di Kota Blitar,” jelas perempuan ramah ini.

Beberapa lingkungan sekolah yang menjadi sasaran komunitas Setya Aksara adalah SMKN 1 Blitar, SMAN 1 Blitar, SMPN 1 Blitar, SMPN 2 Blitar, SMPN 8 Blitar, hingga SDN Sukorejo 03.

Dari brosur yang dibagikan ada barcode untuk menjawab survei, yakni apakah setuju atau tidak jika di Kota Blitar diadakan wadah untuk sinau aksara Jawa.

Beberapa respons survei yang masuk menyatakan sangat setuju dan mendukung kegiatan komunitas Setya Aksara. “Intinya masih banyak yang peduli melestarikan aksara Jawa,” jelasnya. (*/din)

Editor : Yanu Aribowo
#pekerja migran indonesia #Sukorejo #blitar #hong kong #Komunitas Setya Aksara