BLITAR - Ada 10 korban keracunan yang masih terlihat lemas saat ditemui di Puskesmas Boro, Kecamatan Selorejo, pada Selasa (13/5/2025).
Mereka diduga keracunan massal usai mengonsumsi kolak kacang hijau yang disajikan dalam kegiatan posyandu lansia akhir pekan lalu. Korban bertambah karena para lansia memberikan kolak kepada cucunya.
Salah satu korban, Juarti menceritakan, rasa kolak yang dikonsumsi ada sedikit perbedaan dari biasanya. Setelah minum, dia tidak merasakan efek apa pun sehingga biasa saja.
Namun, ketika petang, dia tiba-tiba merasa mual. Gejala yang dirasakannya muncul beberapa jam setelah meminum kolak tersebut.
“Rasanya kayak beda, kecut dan aneh. Biasanya juga sering makan kolak dari posyandu enggak pernah terjadi apa-apa. Minumnya siang, tapi mulai magrib terasa. Langsung muntah, enggak berhenti-berhenti. Disusul diare juga,” ujar perempuan 60 tahun ini.
Tak hanya Juarti. Cucu Juarti yang sempat meminum kolak tersebut juga mengalami gejala serupa.
Menurut Juarti, satu gelas kolak yang dia bawa pulang memang diminum berdua bersama cucunya. Otomatis keduanya dilarikan ke Puskesmas Boro.
Dia mengaku dirawat di Puskesmas Boro pada Sabtu malam dan kondisinya belum sepenuhnya pulih hingga Selasa pagi.
Awalnya memang sempat muntah dan gejala diare masih terus dirasakan meski kini intensitasnya mulai berkurang.
“Kegiatan posyandu lansia di desanya rutin digelar sebulan sekali. Menu kolak kacang hijau sering saya minum tanpa menimbulkan masalah. Tapi sepertinya kolak yang kemarin memang berbeda dari sebelumnya,” ungkapnya.
Juarti berharap bisa segera sehat dan pulang dari Puskesmas Boro agar dapat berkegiatan seperti biasa di rumah. Dia akan lebih berhati-hati mengonsumsi makanan dan jika rasanya aneh tentu akan dihindari.
Untuk diketahui, puluhan warga Dusun Sidomulyo, Desa/Kecamatan Selorejo, diduga mengalami keracunan massal usai mengonsumsi kolak dalam kegiatan posyandu lansia.
Hingga kini, Polres Blitar berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar sudah mengirimkan sampel makanan dan masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti keracunan. (jar/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah