Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Warga Sekitar TPS Baru Kelurahan Bendogerit Kota Blitar usai TPS Dinonaktifkan

Fuad Abida • Jumat, 16 Mei 2025 | 00:01 WIB
DITUTUP PERMANEN: Warga kini dilarang membuang sampah baru yang pembangunannya menelan anggaran sekitar Rp 180 juta.
DITUTUP PERMANEN: Warga kini dilarang membuang sampah baru yang pembangunannya menelan anggaran sekitar Rp 180 juta.

BLITAR - Warga yang tinggal di sekitar TPS Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, kini bisa bernafas lega.

DLH Kota Blitar akhirnya menonaktifkan TPS baru tersebut setelah muncul desakan. Kini, warga hidup damai tanpa bau sampah yang menyengat.

Spandek putih itu membentang di pagar bambu yang dipasang di akses masuk TPS baru di Kelurahan Bendogerit yang kini dinonaktifkan DLH. Dalam spanduk itu tertera tulisan.

“Dilarang Membuang Sampah di TPS Bendogerit. TPS Bendogerit dinonaktifkan dan tidak beroperasi”.  TPS baru itu tepat berada di utara lapangan Bendogerit.

Sebagaimana diketahui, TPS yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp 180 juta itu menuai protes masyarakat setempat.

Pasalnya, keberadaan TPS itu menimbulkan bau tidak sedap hampir setiap hari. Kondisi itu mengganggu kenyamanan warga setempat.

Protes itu pun langsung direspons oleh pihak DLH Kota Blitar. Dinas dan warga setempat langsung menggelar pertemuan untuk membahas permasalahan tersebut.

Informasinya, pertemuan sudah dilakukan beberapa kali dan terakhir DLH sepakat untuk menonaktifkan TPS.

Ketua RT 04/RW 08 Kelurahan Bendogerit, Edi Yuli Praytino, mengaku lega akhirnya TPS baru tersebut dinonaktfikan oleh DLH.

Hal ini sesuai dengan tuntutan warga setempat yang merasakan ketidaknyamanan setelah adanya TPS tersebut.

”Selain polusi bau yang tidak sedap, dampak lain yang dirasakan warga adalah munculnya lalat,” ungkapnya, kemarin (14/5). 

Setelah TPS tidak lagi beroperasi, kata Edi, warga kini merasa nyaman dalam beraktivitas. Terutama masyarakat yang berolahraga di lapangan Bendogerit.

“Sekarang masyarakat yang berkunjung ke lapangan semakin meningkat setelah TPS dinonaktifkan. Jadi tambah ramai sekarang,” ujarnya.

Nah, terkait lokasi pembuangan untuk sampah-sampah warga TPS sudah dinonaktifkan, jelas dia, selama ini sudah ada petugas atau pengirit yang mengambil sampah warga dari rumah ke rumah.

Sebagian warga lainnya ada yang langsung membuangnya di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) di Kelurahan Gedog.

“Jadi, ada ataupun tidak ada TPS sebetulnya tidak masalah. Sejak belum ada TPS, sudah ada petugas yang mengambil sampah warga. Sebagian lainnya juga ada yang buang langsung di TPA yang jaraknya tidak terlalu jauh,” ungkapnya.

Menurut Edi, warga tidak keberatan jika harus membuang sampah langsung ke TPA Gedog.

Sebab, lokasi TPA juga tidak terlalu jauh dari lingkungan warga setempat.

”Pasca TPS dinonaktfikan ini, warga kami imbau tetap menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah dengan tertib demi kenyamanan semua,” terangnya.

Sementara itu, Erdin Subhan, warga lainnya, juga mengaku lega akhirnya TPS baru itu dinonaktifkan. Dia kini bisa menghirup udara segar dengan nyaman tanpa ada gangguan bau tidak sedap.

”Ini merupakan keinginan warga. Terima kasih kepada pemerintah yang sudah merealisasikan tuntutan kami,” pungkasnya. (sub/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#bau tidak sedap #warga #sampah #ganggu #tps #Lega