BLITAR - Tak ada yang menyangka, Freny Rizayanti, perempuan lulusan Perpajakan Universitas Brawijaya, justru menemukan jalan hidupnya bukan di balik meja kantor, melainkan di balik tangkai-tangkai bunga yang ia rangkai penuh cinta.
Kini, dia dikenal sebagai pemilik Buket Publitar, usaha buket bunga segar yang tengah naik daun di Kabupaten Blitar.
Perempuan asal Malang itu memulai usahanya dari nol. Awalnya hanya iseng membantu teman membuat buket untuk acara seminar proposal di kampus. Tapi dari ketidaksengajaan itu, Freny menemukan passion yang justru tak ditemukan di bangku kuliah.
“Jualan bunga itu bikin ketagihan. Apalagi kalau pelanggan puas, repeat order, dan terus kembali lagi. Rasanya bahagia,” kenangnya.
Meski sempat vakum kuliah selama setahun demi menekuni usaha bunga, Freny tak menyerah. Dia tetap menuntaskan kuliah, lalu sempat bekerja di Jakarta. Tapi, jalan hidup berkata lain. Setelah menikah, dia ikut suami ke Blitar.
Awalnya sempat bingung memulai dari mana. Namun, dia tak betah menganggur, lalu memutuskan membangun Buket Publitar di Kanigoro, Blitar.
“Waktu awal buka belum banyak yang paham soal bunga hidup. Saya harus edukasi dulu ke pelanggan, kenapa bunga asli itu lebih bernilai,” tuturnya.
Pelan tapi pasti, buket miliknya mulai dikenal. Apalagi dengan sentuhan layanan ekstra yang tak banyak dimiliki floris lain: seperti pengiriman personal, pesanan dadakan, hingga menjembatani pelanggan luar negeri yang ingin memberi kejutan untuk orang tersayang di Blitar. Pelanggannya datang dari Korea, Amerika, Hong Kong, bahkan Nigeria.
“Pernah ada cowok luar negeri yang kirim bunga ke cewek di sini lewat saya. Kurir saya bantu sampai ketemu langsung. Mereka akhirnya jadian. Lucu juga,” kisahnya sambil tersenyum.
Usahanya sempat terpukul saat pandemi, karyawan diliburkan, omzet menurun. Tapi, Freny tak menyerah. Saat banyak yang tak bisa mudik, dia justru banjir pesanan buket uang dan parsel anggrek. “Satu ruangan penuh buket uang waktu itu. Nilainya sampai puluhan juta,” katanya.
Kini, Buket Publitar berkembang pesat. Freny tak hanya menjual buket bunga yang masih segar, tapi juga tangkai bunga untuk hiasan vas, parsel Lebaran, hingga karangan bunga untuk pejabat. Omzet per bulannya mencapai Rp 30–40 juta.
Baginya, bunga bukan sekadar produk. Tapi, media ekspresi, penyampai pesan cinta, maaf, rindu, bahkan harapan.
“Banyak yang konsultasi dulu, cocoknya bunga apa buat nembak cewek. Kadang ada yang ditolak, terus datang lagi cari bunga buat cewek lain,” ungkapnya sambil tertawa.
Freny percaya UMKM harus terus berinovasi. Branding, konten, dan pelayanan adalah kunci. “Dulu saya pernah bagikan bunga gratis. Buat branding. Yang penting orang ingat: kalau butuh bunga ke Buket Publitar,” pungkasnya mantap. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah