BLITAR – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan di Bumi Bung Karno sejak awal tahun belum berjalan sesuai dengan harapan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar mencatat, hingga awal Mei hanya sekitar 1.500 warga yang memanfaatkan layanan tersebut.
Angka itu jauh di bawah target 54 ribu warga setara 30 persen penduduk kota yang diharap menjalani skrining kesehatan sepanjang 2025. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Blitar, Dissie Laksmonowati Arlini, menengarai minimnya partisipasi masyarakat dipicu sejumlah faktor.
“Banyak warga takut jika hasil pemeriksaan menunjukkan mereka mengidap penyakit tertentu. Padahal tujuan CKG bukan sekadar mencari penyakit, melainkan deteksi dini agar kondisi bisa segera ditangani,” terangnya, Selasa (20/5/2025).
Menurut Dissie, persepsi keliru itu membuat sebagian warga enggan mendatangi puskesmas maupun posyandu yang membuka layanan CKG.
“Kami temukan kekhawatiran dominan pada penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, hingga risiko stroke. Padahal makin cepat terdeteksi, makin mudah dikendalikan,” tuturnya.
Dinkes berencana menggencarkan kembali sosialisasi melalui kader posyandu hingga petugas kesehatan di puskesmas. Edukasi akan menitikberatkan pada manfaat pemeriksaan berkala dan penjelasan alur layanan—mulai registrasi hingga tindak lanjut medis.
“Kami susun materi sederhana agar mudah dipahami, termasuk soal tata cara cek gula darah, tekanan darah, dan kolesterol,” bebernya.
Nah, jika sebelumnya CKG diintegrasikan dengan program yang hanya melayani warga yang berulang tahun pada bulan tertentu, kini kebijakan itu dirombak.
“Mulai April lalu siapa pun bisa memeriksakan diri kapan saja di faskes terdekat. Tentunya pemeriksaan kesehatan ini dilaksanakan sesuai pedoman CKG,” jelas Dissie.
Sasaran layanan tak hanya usia produktif, namun mencakup balita, remaja, sampai lansia. Prosedur pemeriksaan disesuaikan pedoman tiap kelompok umur. “Untuk balita fokus ke tumbuh kembang, imunisasi, dan anemia; remaja ke kesehatan reproduksi; dewasa ke faktor risiko PTM (penyakit tidak menular),” urainya.
Sejak Januari, kasus terbanyak yang terdeteksi melalui CKG adalah diabetes mellitus dan hipertensi.
Baca Juga: Tak Menyangka, Ternyata Ini Penyebab Keracunan Puluhan Warga Wonotirto-Selorejo di Kabupaten Blitar
“Ini mengonfirmasi data nasional bahwa dua penyakit tersebut menjadi pembunuh senyap. Karena itu CKG kami dorong sebagai pintu masuk perubahan gaya hidup masyarakat,” tandasnya. (sub/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah