Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Perajin Batik Blitar Hanya Lulusan SMP: Kini Karyanya Berhasil Diminati hingga Luar Pulau Jawa

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 20 Mei 2025 | 20:00 WIB
TELATEN: Pembatik didikan Umayah menorehkan canting di kain yang nanti diolah menjadi baju dan dipasarkan ke Bali.
TELATEN: Pembatik didikan Umayah menorehkan canting di kain yang nanti diolah menjadi baju dan dipasarkan ke Bali.

BLITAR - Di balik lorong sempit Dusun Centong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar menjadi saksi munculnya ragam batik yang kini digandrungi masyarakat Blitar. Adalah Umayyah, yang membuat corak batik khusus, hingga membuka pelatihan bagi anak sekolah.

Ya, perempuan yang hanya lulusan SMP ini, namun dari tangnnya lahir karya-karya batik yang kini telah menembus galeri di Bali, hingga jadi langganan busana para duta wisata Kabupaten Blitar.

Dia adalah Umayyah, yang pelan-pelan menorehkan prestasi lewat warisan budaya batik. Tak ada darah seni, tak pula warisan usaha turun-temurun. Tapi siapa sangka, dari tangan perempuan ini tercipta batik yang terkenal dari Blitar.

“Awalnya saya cuma suka keterampilan. Tahun 2015, saya diajak ikut pelatihan ke Solo oleh Pemkab Blitar. Dari situ, saya baru tahu betapa rumitnya proses membatik. Justru karena rumit itu saya tertantang,” kata Umayyah.

Dia melanjutkan, bahwa pada 2016 silam, dia mulai menekuni batik secara serius. Bukan hanya sekadar hobi, tapi jadi jalan hidupnya. Tanpa latar belakang pendidikan seni atau desain, dia belajar dari nol.

Bersama sang suami, Umayyah mendirikan Batik Lwang Wentar. Namanya diambil dari ikon lokal, yakni Candi Sawentar dan sejarah pohon lo yang melegenda di wilayah tersebut. Merek LWO (Lwang Wentar) bahkan telah dipatenkan sejak 2020.

Karya batiknya beragam: dari batik tulis, batik cap, hingga kombinasi. Prosesnya pun tak main-main. Satu lembar kain bisa memakan waktu hingga dua minggu. “Yang bikin beda itu proses soganan dua kali. Kata konsumen, hasilnya lebih halus dan warnanya lebih dalam,” ungkapnya.

Kini, Lwang Wentar punya 22 karyawan dan sering menerima pesanan dari luar kota, bahkan hingga galeri internasional di Gianyar, Bali. Harga batiknya bervariasi: mulai dari Rp125 ribu untuk cap, hingga Rp1,5 juta untuk batik tulis berkualitas tinggi.

Tak hanya memproduksi dan menjual, Umayyah menjadikan batiknya sebagai ruang belajar budaya. Mulai anak TK, pelajar, hingga mahasiswa datang belajar membatik di sanggar kecilnya.

Pihaknya terbuka untuk siapa saja dan tak ada syarat khusus, tentu yang penting niat belajar. Bahkan dia juga rutin diundang mengisi pelatihan membatik di desa-desa sekitar. Beberapa alumninya kini menjadi karyawan tetap.

Kecintaan Umayyah terhadap batik juga diwujudkan dalam promosi yang konsisten. Karya-karyanya telah tiga kali dikenakan oleh para finalis Gus dan Jeng Blitar. “Itu bentuk apresiasi dari Pemkab dan tentu saja promosi yang luar biasa bagi kami,” tutur Umayyah.

Harganya batik milik Umayyah ini bervariasi, batik cap Rp 125 - 200 ribu. Namun untuk batik tulis, lebih mahal yakni berkisar Rp 350 ribu hingga lebih Rp 500 ribu. Sedangkan batik kombinasi, campuran tulis dan cap dia mematok harga Rp 250 ribu hingg Rp 300 ribu.

Umayyah tak berhenti bermimpi. Dia ingin Dusun Centong yang kini jadi pusat produksinya, suatu hari bisa menjadi Kampung Batik pertama di Kabupaten Blitar. Dia menyebut, Kabupaten Blitar sudah punya Candi Sawentar. Misalnya, wisatawan datang, lalu masuk kampung batik, bisa lihat langsung proses membatik.

 “Saya berharap anak muda sekarang bisa mencintai budaya sendiri. Pakai batik asli. Bukan batik cetak pabrikan. Karena dalam setiap goresan malam, ada sejarah dan jati diri bangsa,” pungkasnya. (sub)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Kabupaten Blitar #blitar #pelajar #cap #warisan budaya #duta wisata #Batik Lwang Wentar #kanigoro #pelatihan #bali #Sanggar #mahasiswa #Corak #gianyar #Tulis #batik