Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Inspiratif Desainer Kebaya Muda Asal Kota Blitar yang Karyanya Tembus hingga Kanada

M. Subchan Abdullah • Kamis, 22 Mei 2025 | 18:35 WIB
ULET: Renata Dianitasari menunjukkan kebaya dan gaun hasil karyanya yang paling favorit.
ULET: Renata Dianitasari menunjukkan kebaya dan gaun hasil karyanya yang paling favorit.


BLITAR - Usianya masih muda. Semangatnya dalam berkarya sangat membara.

Dialah Renata Dianitasari, desainer muda spesialis kebaya warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Tak sekadar mendesain, dia juga membuka kursus desain busana.

***

Siang itu, suasana di Jalan Pamenang, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, itu tampak lengang. Papan hitam yang tergantung di depan sebuah rumah sederhana itu menjadi penanda Jawa Pos Radar Blitar bahwa tujuan telah sampai.

Tulisan “Rumah Kebaya Renata Dee” terpampang jelas di papan hitam tersebut.

Di tempat itulah, perempuan bernama lengkap, Renata Dianitasari, menghasilkan karya-karya mengagumkan. Ya, kebaya. Busana tradisional perempuan Indonesia. 

Garasi berukuran sekitar 2x3 meter itu disulap menjadi ruang menjahit, sedangkan bangunan di sisi baratnya diubah menjadi galeri. Sementara bagian tengah merupakan ruang tamu. 

Di galeri yang berkuran sekitar 3x3 meter itulah, Renata menumpahkan seluruh idenya mendesain kebaya. Galeri itu kini menjadi ruang penyimpanan khusus bagi karya-karya kebayanya dengan berbagai model yang menawan.

Terhitung setidaknya sudah puluhan, bahkan ratusan kebaya berbagai model yang dihasilkan.

“Alhamdulillah, mulai kebaya untuk sewa sampai kebaya pesanan pelanggan. Semua kebaya itu saya desain sendiri dan dibantu oleh tim yang mengerjakan di beberapa bagian tertentu,” ungkapnya saat ditemui di galeri, Senin (19/5/2025) lalu.

Rumah kebaya milik Renata dirintas sejak 2019. Galeri itu merupakan mimpinya sejak lama. Sebelum mendirikan di kampung halamannya, Renata sudah sempat membuka galeri di Bali, tepatnya di Kota Denpasar.

Baca Juga: Pengurus KONI Kabupaten Blitar Akhirnya Dilantik, Apa Target Ketua Baru Kaji Beky di Porprov IX Jatim?

”Kebetulan saat itu saya memang kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia) Bali. Di samping kuliah, di sana saya membuka galeri kecil-kecilan,” ungkap alumnus ISI Bali jurusan fashion designer ini.

Namun, galerinya di Bali itu tidak bertahan lama. Biaya operasional yang membengkak menjadi kendala utamanya.

”Biaya di sana lumayan tinggi sehingga saya memutuskan untuk menutupnya dan berpikir untuk membuka galeri di Kota Blitar,” tutur perempuan 20 tahun ini.

Pascalulus kuliah di Bali, Renata langsung memutuskan untuk pulang kampung. Di kota tempat kelahirannya, dia tidak langsung membuka galeri. Keputusannya itu masih ditimbang-timbang dengan melihat peluang usaha kebaya di Blitar.

“Dari situ, saya berpikir tidak ada salahnya untuk mencoba membuka galeri. Dan ternyata lambat laun dapat respons baik. Satu demi satu pesanan kebaya datang hingga saya membuka persewaan,” ungkapnya.

Di tengah perjalanan mengembangkan usahanya itu, Renata nyaris terkena tipu pelanggan. Untungnya, dia mampu membaca gelagat pelanggan tersebut hingga akhirnya bisa dicegah.

“Waktu itu hampir ketipu. Alhamdulillah bisa saya cegah. Jika tidak, mungkin bisa rugi besar,” kenangnya, lantas tersenyum.

Nah, alasan memilih kebaya sebagai jalan usahanya karena memang sejak kecil sudah menggambar kebaya. Dia menyukai hal-hal yang rumit dan mendetail. ”Suka yang detail-detail karena lebih tertantang,” tuturnya.

Di rumah kebayanya, dia melayani pembuatan dan persewaan kebaya, gaun, hingga busana fashion show. Dia dibantu oleh tim yang bekerja secara terstruktur sesuai tugas masing-masing. Ada yang bertugas menjahit, bordir, hingga memasang manik-manik.

Khusus untuk desain kebaya diatasi langsung oleh Renata, sementara untuk produksinya diserahkan kepada tim dengan tetap diarahkan. ”Jujur saya sendiri kurang suka menjahit. Meski bisa, kalau diminta menjahit, nanti hasilnya bisa lama,” akunya.

Saat ini, pelanggan Renata tidak hanya berasal dari lokal Blitar, tetapi sudah sampai luar daerah seperti Malang dan sekitarnya.

Biasanya, konsumen datang dari mahasiswa-mahasiswa luar daerah yang ingin menyewa kebaya untuk wisuda. Selain itu juga ada untuk gaun pernikahan. 

Soal tarif harga untuk pembuatan sebuah kebaya bervariasi. Tergantung dari jenis kain dan modelnya.

“Kisaran harganya mulai ratusan ribu sampai jutaan. Karya saya yang terjual dengan harga paling tinggi itu pernah sampai Rp 7 juta, pesanan dari Kanada. Lama pembuatannya maksimal sampai dua minggu,” terangnya. 

Di samping membuka usaha persewaan dan produksi kebaya, Renata juga membuka kursus desain kebaya maupun gaun.

Dia merintis sekolah desain fashion atau Renata Fashion Desain School (RFDS) sejak beberapa tahun terakhir. “Alhamdulillah, peminatnya lumayan. Saya buka kelas tiap minggunya,” terangnya.

Lewat sekolah desain tersebut, Renata berupaya menularkan ilmunya kepada generasi muda lainnya dengan maksimal. Harapannya muncul desainer kebaya andal dan dikenal secara luas.

“Secara tidak langsung, Blitar bakal dikenal sebagai daerah para desainer. Ini besar harapan saya,” pungkasnya. (*/c1/ady)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#kanada #Renata Dee #desainer #Institut Seni Indonesia #fashion #bendogerit #desain #model #denpasar #kebaya #bali #Peeempuan #ISI #muda #Renata Dianitasari #Kota Blitar #sekolah