BLITAR - Upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan usia produktif terus dilakukan Satlantas Polres Blitar. Salah satunya dengan menggandeng pondok pesantren (ponpes) dalam program safety riding dan doa bersama, kemarin (22/5).
Acara bertajuk Santri Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas Polres Blitar digelar di Taman Lalu Lintas Warung Bambu Barokah (WBB) Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari. Menariknya, usaha Satlantas Polres Blitar ini mendapatkan apresiasi langsung dari Dirlantas Polda Jatim yang datang langsung di lokasi.
“Kehadiran saya di Blitar ini merupakan bentuk dukungan terhadap inisiatif Kapolres Blitar dalam mengedukasi anak usia dini dalam berlalu lintas. Karena terdapat taman lalu lintas, yang dibuat oleh pemilik WBB, tentunya kerja sama dengan Polres Blitar,” ujar Dirlantas Polda Jatim, Kombes Pol Iwan Saktiadi.
Tidak hanya itu, Iwan sapaan akrabnya juga mendukung, adanya program Polisi Lalu Lintas Hadir di Ponpes. Karena dalam kunjungannya, Iwan juga menyaksikan langsung simulasi lalu lintas yang diperagakan oleh para santri. Hal ini menjadi program dari Kakorlantas, polisi goes to pondok pesantren. Dalam progam ini sengaja polisi lalu lintas menyasar santri-santri yang akan masuk usia 17 tahun dan mendapatkan surat izin mengemudi (SIM).
Dengan begitu, para santri bisa paham dalam berlalu lintas ketika sudah beranjak dewasa. “Kami ingin para santri sudah paham aturan dan etika lalu lintas sebelum nanti turun ke jalan. Edukasi terhadap santri sangat penting mengingat mereka merupakan calon pelaku lalu lintas yang kelak akan memiliki SIM dan berkendara,” kata Iwan, saat ditemui usai kegiatan di Pondok Warung Bambu Barokah.
Dirlantas ingin memastikan, para santri sudah dibekali pemahaman dan keterampilan yang cukup agar menjadi pengendara yang beretika dan taat hukum. Maka dari itu, dengan adanya taman lalu lintas yang dibangun ini dan dilengkapi rambu-rambu hingga marka jalan, serta digunakan untuk praktik berkendara skala kecil. Diharapkan dapat membuat santri bisa memberikan tambahan ilmu lalu lintas. “Kami berharap saat mereka sudah cukup umur dan sah secara hukum untuk memiliki SIM, mereka bukan lagi pemula dalam hal tertib lalu lintas,” tambahnya.
Dalam acara tersebut, turut hadir tokoh agama kondang asal Wonodadi, Gus Iqdam, yang memberikan tausiyah sekaligus penguatan moral terkait pentingnya menjaga keselamatan diri dan orang lain di jalan raya. Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para santri dan pengasuh pondok pesantren.
Lebih lanjut, Iwan menjelaskan, program ini juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas, khususnya pada kelompok usia produktif 18-30 tahun yang selama ini mendominasi data kecelakaan. “Edukasi sejak dini adalah kunci. Semakin banyak yang sadar pentingnya keselamatan berlalu lintas, maka angka kecelakaan juga bisa ditekan secara signifikan,” pungkasnya. (jar/ynu)
Editor : Fuad Abida