BLITAR – Jemaah haji harus terus menjaga kondisi kesehatannya tetap prima menjelang puncak haji pada awal Juni mendatang. Kondisi Kota Makkah saat ini sudah sangat ramai didatangi jemaah haji dari berbagai negara.
Di antaranya adalah jemaah haji asal Kabupaten Blitar. Terutama jemaah haji dengan kategori risiko tinggi (risti) harus benar-benar mendapatkan perhatian khusus. Seperti jemaah haji dari kelompok terbang (kloter) 9 Embarkasi Surabaya (SUB) yang sempat mendapatkan perawatan di RS King Abdul Aziz, Kota Makkah.
Sejak kedatangan di Kota Makkah pada Selasa (13/5/2025) lalu, jemaah haji risti menjadi perhatian serius tim kesehatan haji Indonesia (TKHI) dengan pemantauan kondisi kesehatan setiap hari. Tak hanya seputar kesehatan, ada juga pengalaman jemaah haji risti yang tidak mau makan.
Menghadapi situasi itu petugas pendamping harus mencari solusi agar mereka yang tidak mau makan, bisa luluh dan mengkonsumsi makanan yang disediakan di hotel. Sebab, situasi itu bakal mempengaruhi kondisi kesehatan yang bersangkutan.
“Àlhamdulillah secara umum sehat, ada yang sempat dirawat di rumah sakit satu orang,” jelas ketua kloter 9 SUB, Choirun Niam.
Jemaah haji risti yang sempat dirawat di RS King Abdul Aziz berasal dari Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro. Jemaah haji yang merupakan laki-laki berumur 87 tahun ini sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit selama tiga hari.
Ia dirujuk pada Kamis (22/5/2025) lalu dan Minggu (25/5) yang bersangkutan sudah diizinkan kembali ke hotel bersama jemaah haji asal Kabupaten Blitar lainnya. “Alhamdulillah sudah pulang dari rumah sakit setelah tiga hari dirawat,” ungkap Niam.
Seperti diketahui, sejak keberangkatan pada awal Mei, jemaah haji asal Kabupaten Blitar yang sudah berada di Tanah Suci sebanyak 798 orang.
Mereka terbagi dalam lima keberangkatan, yakni kloter 8 sebanyak 376 orang, kloter 9 sebanyak 376 orang, kloter 45 sebanyak 37 orang, kloter 46 sebanyak 2 orang, dan kloter 75 sebanyak 7 orang.
Terutama jemaah haji yang masuk kategori risiko tinggi (risti) secara rutin dipantau oleh tim kesehatan haji Indonesia (TKHI). (ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah