BLITAR - Tidak pernah terbesit di benak Mansur, peternak sapi warga Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar bahwa sapi Limosin yang dirawatnya selama lima tahun, itu dibeli oleh Presiden Prabowo Subianto untuk kurban Idul Adha. Sapinya dibeli dengan harga Rp 125 juta.
Sapi jantan milik Mansur peternak Desa Gadungan Kecamatan Gandusari ini memang terlihat besar. Tidak rugi merawatnya sejak 2020 lalu, kini sapi itu terbukti diminati oleh Presiden Prabowo alias pemerintah pusat dengan harga fantastis, yakni Rp 125 juta.
Padahal sebelumnya, sempat ditawar oleh Dinas Peternakan dan Perikananan Kabupaten Blitar seharga Rp 100 juta. Bahkan Mansur ikhlas dengan harga itu, karena untuk melunasi biaya haji orang tua dan mertuanya.
“Saat itu saya pasang harga Rp 125 juta, tapi ditawar Rp 100 juta. Okelah saya lepas. Hasil penjualanitu saya tidak ambil untung karena ini diniatkan untuk biaya haji ibu kandung dan ibu mertua,” kata Mansur.
Saat itu dia sempat menunjukkan bukti formulir pendaftaran haji orang tuanya. Seketika pembeli langsung setuju untuk membeli sapi milik Mansur. Namun saat itu peternak Gandusari ini belum ada persetujuan harga dengan pihak pemerintah.
Tidak lama kemudian Mansur dipanggil ke Surabaya, bersama peternak dari 39 kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur. Satu per satu peternak dipanggil dan hasilnya sapi paling besar di Jawa Timur yang diminati presiden dari Mojokerto dengan berat 1,2 ton dengan harga Rp 135 juta.
Setelah itu, giliran Mansur dipanggil menghadap perwakilan dari Istana Negara tersebut. Sontak dia kaget menerima harga pembelian sapi tersebut yang ternyata di luar dugaan.
“Disitu saya disodori map berisi kwitansi yang bertuliskan Rp 125 juta. Saya langsung nangis. Karena kemarin cuma nawar Rp 100 juta. Saat itu petugas yang memberi map juga nangis pun orang dinas,” ungkapnya.
Mereka ikut terharu setelah Mansur mendapat berkah dan rejeki dari penjualan sapi tersebut. Bahkan, seusai pulang dari Surabaya dia juga menerima bingkisan langsung dari Prabowo Subianto. Bingkisan itu khusus diberikan kepada Mansur.
Sapi berbobot hampir satu ton itu memang istimewa. Dia memeliharanya sejak masih pedet seharga Rp 12 juta. Lima tahun kemudian, sapi jenis Limosin ini tumbuh bak raksasa yang mencuri perhatian tim seleksi hewan kurban presiden.
Saat tim dari Dinas Peternakan Kabupaten Blitar menawarkan enam sapi terbaik ke pusat, sapi Mansur langsung menempati urutan teratas.
“Saat itu ada video dokumentasinya saat proses timbang. Saya sengaja menyewa penimbang untuk mengukur berat bada sapi,” terang Mansur.
Mansur sendiri bukan peternak baru, sebab dia sudah menekuni usaha ini sejak 1996. Di rumahnya kini ada enam sapi dan 300 ekor kambing jenis sanen. Untuk menjaga kesehatan ternaknya, Mansur memilih metode alami. Bahkan ramuan itu sudah ada sebelum ada vaksin penyeakit mulut dan kuku (PMK).
Dia meracik sendiri dengan jamu tradisional dari racikan jahe, temu lawak, kencur, gula merah, dan asam untuk mencegah penyakit. “Saya percaya manusia dan hewan sama-sama makhluk hidup. Jadi pendekatannya ya juga harus penuh kasih dan alamiah,” ungkapnya.
Mansur menceritakan bahwa sapinya ini awalnya sengaja dijual, untuk membiayai haji orang tuanya. Sang istri mengajaknya untuk menimbang sapi tersebut, dengan menyewa tukang timbang.
Tidak hanya itu, momen menimbang sapi itu juga didokumentasikan di foto dan video, hingga menjadi buah bibir di kalangan peternak. Kabar itu terdengar oleh dinas peternakan, dan tertarik melihat sapi langsung ke rumah Mansur.
Istri Mansur lah yang pertama kali mencetuskan ide menjual sapi untuk melunasi ongkos haji orang tua mereka. “Sapi ini gede, lho. Kalau laku, bisa buat haji Mamak,” kata sang istri, saat keduanya sedang berbincang di rumah.
Kini, mimpi itu tak lagi sekadar harapan. Dengan sapinya yang terjual ke Istana, Mansur bukan hanya membawa nama Blitar harum, tetapi juga menunjukkan bahwa ketulusan bisa mengantarkan ke pintu rezeki yang tak disangka-sangka.
“Alhamdulillah, ini bukan rezeki saya, tapi rezekinya mamak berdua. Saya cuma perantara,” pungkasnya. (*/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah