BLITAR - Mungkin tak banyak yang tahu bahwa ide-ide segar bisa lahir dari dapur rumah. Hal itu kerap dirasakan Fajurul Ulum.
Justru dari ruang sederhana itu, warga Bendogerit ini belajar tentang konsistensi, ketekunan, dan seni berpikir kreatif.
Bukan sekadar soal resep, melainkan tentang bagaimana menghadirkan pengalaman dan cerita dalam setiap lapis kue yang ia buat.
Lulusan SMK jurusan Boga dan D-3 Perhotelan ini tak serta-merta langsung menjadi “jagoan dapur”.
Dia mengaku ada proses belajar panjang sebagai bagian rangkaian trial and error telah dilalui. Gagal? Sudah pasti. Tapi yang membuatnya bertahan bukan semata hasil akhir, melainkan semangat untuk terus mencoba.
“Kalau gagal, ya tanggung jawab, dan itu bagian dari proses. Harus bisa evaluasi, bukan cari pembenaran,” begitu tuturnya.
Yang menarik, Ulum -sapaan akrabnya- tidak terburu-buru mengikuti tren viral yang terus berganti secara cepat. Dia justru mengambil jalan berbeda, yakni dengan menguatkan pakem dan prinsip sendiri.
“Kalau semua ikut yang viral, kita kehilangan identitas. Bikin sesuatu yang beda, yang memang kita banget, itu bakal lebih tahan lama,” ujarnya.
Prinsip ini dipegang teguh sejak awal, kemudian menjadi titik tolak dalam menciptakan resep maupun gaya visual kreasinya sendiri.
Ide-ide baru sering muncul dari hal-hal kecil. Misalnya melalui obrolan dengan tim, eksperimen tekstur, atau sekadar memperhatikan kebiasaan pelanggan.
Dia tidak takut mengajak timnya untuk ikut berpikir bersama. Baginya, membangun kreativitas bukan tugas satu orang.
Baca Juga: Dalang Muda Kota Blitar Ini Tampil Perdana di Pentas Wayang Kulit Bersih Desa Kelurahan Bendogerit
“Dari yang awalnya enggak bisa apa-apa, sekarang mereka bisa bikin keputusan sendiri soal dekorasi. Itu kemajuan besar dan itu penting,” beber Ulum.
Dalam bekerja, dia juga memberi ruang bagi spontanitas. Dia tak kaku pada berbagai rencana. Ada kalanya ide baru muncul saat proses produksi berlangsung.
“Kadang hal tak terduga justru jadi kunci. Selama kita tahu mana yang bisa diteruskan dan mana yang harus direm, fleksibel itu penting,” terang pria ramah ini.
Bagi Ulum, dapur bukan hanya tempat memasak, melainkan ruang tumbuh. Di sanalah, dia belajar mengenali batas, menguji rasa, dan merangkai kepercayaan diri.
Proses kreatif yang dibangun tidak instan, harus tumbuh dari keberanian untuk memulai, konsistensi dalam bereksperimen, dan keteguhan untuk tidak sekadar ikut-ikutan.
“Menjadi koki itu adalah soal rasa. Dan, rasa tanpa ide akan hambar. Dan diiringi keberanian untuk terus mencoba,” terangnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah