BLITAR - Setelah gagal melenggang ke kursi AG 2 Kota Blitar, tak membuat Bayu Setyo Kuncoro, warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, berdiam diri dan pasrah pada keadaan.
Justru hal ini menjadi awal langkah dan peluang baru. Yakni, ikut membangun pertanian modern dan menciptakan petani-petani muda andalan.
Di antara deretan tanaman melon yang tumbuh rapi di bawah paranet, Bayu Setiyo Kuncoro tampak menyapa tanaman-tanamannya layaknya sahabat karib. Siapa sangka, pria yang akrab disapa Bayu itu dulunya duduk di kursi legislatif sebagai anggota DPRD Kota Blitar.
Sejak dua tahun terakhir, dia memilih jalan hidup baru menjadi petani melon hidroponik.
GeoFinco Farm, nama kebun miliknya di Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, menjadi bukti peralihan peran yang tidak main-main. “Saya dulu di dewan, tapi sudah mulai tertarik dengan pertanian sejak masih menjabat,” ujar Bayu.
Inspirasi datang dari seorang sahabat bernama Agung Peter, mantan banker yang kemudian mengajaknya serius membudidayakan melon dengan sistem hidroponik.
Namun, langkahnya tidak semulus daun melon yang membentang. Cuaca ekstrem hingga biaya produksi yang tak sedikit sempat membuatnya nyaris putus asa.
Bayu bercerita bahwa suatu ketika hanya mendapat hasil panen Rp1,5 juta, padahal modal yang digelontorkan hampir Rp 10 juta. Waktu itu, dia cuma bisa bersyukur, karena menurutnya rezeki memang urusan Tuhan.
Namun, dia sudah usaha maksimal. Meskipun pernah nyaris gagal panen, dia enggan menyerah. Dia menyadari bahwa bertani bukan sekadar soal panen, melainkan tentang kebermanfaatan.
“Saya ingin ladang ini juga jadi ladang pahala. Bisa nyambungin hasil tani teman-teman ke pasar. Bisa bantu mereka jual hasilnya. Jadi bukan cuma petani, melainkan juga bakul melon,” katanya, sembari tersenyum.
Kini, GeoFinco Farm menanam berbagai varietas melon, termasuk sweetnet dan Entanon, jenis yang menurutnya lebih tangguh menghadapi cuaca. Dia bahkan menggunakan metode polinasi alami dengan bantuan lebah untuk memastikan buah tumbuh sempurna.
Menurutnya, memakai lebah dapat lebih efisien karena bunga-bunga di atas susah dijangkau.
Lebah-lebah inilah yang berperan dalam menjadikan buah melon lebat. Ketika sudah berusia minimal dua bulah, maka buah bisa dipanen. Selain sehat, buah melon hidroponik diminati pasar karena tahan penyakit.
Untuk sekali panen, Bayu mampu meraup omzet puluhan juta rupiah. Melon tanamannya dikirim ke sejumlah minimarket dan toko-toko buah. Tak hanya di Blitar, tetapi juga di Jakarta dan lain sebagainya.
Bercocok tanam melon, menurut Bayu, setidaknya bisa mematahkan anggapan warga yang sinis bahwasanya usai kalah pilkada bakal terpuruk.
Meski sudah tak aktif di panggung politik, Bayu merasa jalannya kini justru lebih bermakna. Dia bisa tetap berkiprah untuk masyarakat lewat cara yang lebih sunyi namun nyata. “Saya percaya ini semua kehendak Allah.
Dulu duduk di dewan, sekarang berdiri di ladang. Dan dua-duanya bisa jadi jalan kebaikan,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah