Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dua Tokoh Penggagas Grebeg Pancasila Kota Blitar Sayangkan Perubahan Istilah di Nama Prosesi Kegiatan, Begini Tanggapannya

Noormalady Usman • Jumat, 30 Mei 2025 | 21:15 WIB
Suasana upacara Budaya Grebeg Pancasila tahun 2024 lalu di Alun-alun kota Blitar. Tahun ini ganti nama jadi Upacara Harlah Pancasila.
Suasana upacara Budaya Grebeg Pancasila tahun 2024 lalu di Alun-alun kota Blitar. Tahun ini ganti nama jadi Upacara Harlah Pancasila.

BLITAR - Dua penggagas Grebeg Pancasila, yang menjadi cikal bakal 1 Juni menjadi Hari Lahir Pancasila yang kemudian diakui secara nasional, merasa prihatin. Keduanya adalah M. Samanhudi Anwar dan Bagus Putu Parto.

Hal itu disebabkan adanya informasi, bahwa jelang Bulan Bung Karno pada Juni 2025, nama-nama kegiatan yang khas setiap tahun menjadi agenda kota tiba-tiba diganti.

Memang, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar melalui dinas terkait menjanjikan kegiatan dalam Bulan Bung Karno tahun ini bakal berbeda.

“Sangat disayangkan kalau nama-nama yang telah digunakan sebelumnya kemudian diganti. Seharusnya ada diskusi publik dengan melibatkan para budayawan, termasuk para tokoh yang terus menjaga dan menggelar event Bulan Bung Karno ini sejak belasan tahun lalu,” ungkap M. Samanhudi Anwar, Jumat (30/5/2025). 

Karena menurut dia, di balik nama-nama event tersebut ada makna filosofi dan nama-nama tersebut juga telah melalui diskusi serta renungan mendalam.

Lalu kemudian, nama-nama itu dianggap ketinggalan zaman, padahal justru nilai-nilai lokal yang berbasis pada akar luhur budaya Jawa ada dalam nama-nama tersebut.

“Ada diskusi panjang para tokoh-tokoh di zamannya. Mereka yang telah berjuang agar Bulan Bung Karno ini semarak, termasuk nama-nama event itu sangat kaya dengan simbol-simbol Bung Karno serta masyarakat Jawa,” akunya.

Sementara itu, Bagus Putu Parto juga menyuarakan hal yang hampir sama karena dirinya bersama rekan-rekan seniman dan budayawan kurang lebih pada 2010 telah menggelar seminar, yang bahkan mendatangkan tokoh bahasa dari Kraton Surakarta, untuk sekedar penamaan rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno itu.

“Jadi sangat riskan kalau kemudian diganti, tanpa terlebih dahulu menggali dan mengetahui mendalam makna dan filosofi, serta diskusi panjang tentang penamaan event-event itu,” terangnya.

Karena itu, dia berharap agar Pemkot Blitar mempertimbangkan hal ini terlebih dahulu. Butuh ditanyakan kepada tokoh-tokoh sepuh yang masih ada, termasuk dirinya, siap untuk diajak diskusi terkait hal itu.

“Silakan kalau mau diskusi. Saya siap menceritakan terkait filosofi nama-nama kegiatan rangkaian Grebeg Pancasila itu,” akunya.

Baca Juga: SPMB SMP Negeri Kota Blitar Masuk Tahap Verifikasi Data Administrasi, Dispendik: Penentuan Lolos Tidaknya

Beberapa nama kegiatan yang diganti misalnya ritus menjadi prosesi, Bedhol Pusaka menjadi Kirab Pancasila, Tirakatan Macapatan menjadi Renungan Pancasila, upacara budaya Grebeg Pancasila menjadi upacara Harlah Pancasila. (ady/c1)

    

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#budaya #macapatan #Renungan #tirakatan #Bedhol Pusaka #penggagas #upacara #grebeg pancasila #Bagus Putu Parto #pancasila #kirab pancasila #Tokoh #seniman #budayawan #Bulan Bung Karno #samanhudi anwar