BLITAR – Wacana penurunan tarif parkir di Bumi Bung Karno menuai protes dari kalangan juru parkir (jukir).
Paguyuban Juru Parkir Kota Blitar menyuarakan keberatan terhadap rencana kebijakan tersebut karena dinilai bisa berdampak langsung pada penghasilan mereka.
Ketua Paguyuban Jukir Kota Blitar, Bambang Suharto, menyebutkan para jukir tidak pernah diajak diskusi sejak awal munculnya wacana perubahan tarif.
“Kenapa kami merasa keberatan? Karena adanya wacana ini membuat gaduh, dan kami tidak pernah diajak bicara,” tegasnya, Jumat (30/5/2025).
Menurutnya, selama ini para jukir telah berkontribusi signifikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD) melalui setoran retribusi parkir. Namun, perhatian terhadap kesejahteraan mereka dinilai masih minim.
“Tarif seperti sekarang saja kami masih minim perhatian, apalagi kalau diturunkan. Kami tidak digaji, penghasilan murni dari pembagian parkir,” ujarnya.
Bambang juga mengungkapkan, selain menerima seragam parkir setahun sekali dan bingkisan Lebaran, tidak banyak bentuk apresiasi atau bantuan yang dirasakan para jukir.
Oleh karena itu, ia berharap Pemkot Blitar tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis dan kepentingan masyarakat, tetapi juga memikirkan keberlangsungan hidup para jukir.
“Kami akan menerima apa pun keputusannya, asal kesejahteraan kami diperhatikan,” pungkasnya. (ady)
Editor : M. Subchan Abdullah