BLITAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar menyiapkan tiga titik lokasi dapur Makan bergizi gratis (MBG) sesuai program nasional yang dicanangkan pemerintah pusat. Bahkan, ada salah satu pondok pesantren yang berinisiatif mendirikan dapur untuk program ini. Ditargetkan, tahun ini dapur MBG bisa beroperasi.
Kepala Bagian (Kabag) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Blitar, Alwi Maulana, mengatakan bahwa telah meninjau salah satu lokasi pengajuan dapur MBG mandiri oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Asy-Syifa pada Sabtu (31/5).
Menurutunya, pendirian dapur MBG ini adalah bagian dari program nasional yang ditargetkan mencapai 10 ribu titik pada 2025. Untuk jalur APBN, setiap kabupaten dan kota diminta menyiapkan minimal tiga lokasi.
“Pemkab Blitar telah menyiapkan tiga titik utama. Masing-masing di Kecamatan Wonotirto; Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat; dan Kecamatan Talun. Selain itu, ada lima titik cadangan juga telah disiapkan apabila dibutuhkan,” ujarnya.
Alwi melanjutkan, Pemkab Blitar siap mendukung penuh program ini. Pihaknya ingin anak-anak Bumi Penataran bisa makan bergizi dan tentu dampaknya luar biasa. Tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga bermanfaat kepada orang lain dengan menyerap tenaga kerja dan menyejahterakan petani serta UMKM. Dia menegaskan, pendirian dapur MBG juga bisa diajukan secara mandiri oleh lembaga atau yayasan.
Salah satu yang sudah mengajukan adalah Ponpes Asy-Syifa melalui yayasan yang menaunginya. Karena persyaratan utama memang harus ada lembaga yang bertanggung jawab pada dapur MBG ini. “Persyaratannya, lokasi harus mudah diakses, memiliki sumber air tanah yang baik, jauh dari potensi bencana, serta harus memenuhi kriteria penerima manfaat,” ungkapnya.
Sementara itu, tenaga ahli Badan Gizi Nasional (BGN), Kuswanto mengatakan, masih banyak masyarakat yang belum memahami esensi program ini secara menyeluruh. Menurutnya, informasi yang simpang siur membuat sebagian warga ragu dan enggan terlibat.
“Saya tegaskan, membangun dapur MBG itu tidak sulit. Terpenting ada niat, lokasi, dan dana. Tapi yang lebih penting lagi adalah semangat gotong royong. Jangan ada yang menghambat. Ini demi masa depan anak-anak kita,” tegasnya.
Pensiunan kolonel ini menjelaskan, program dapur MBG menargetkan 32 ribu titik secara nasional. Untuk 2025, pemerintah menargetkan 10 ribu titik dengan sekitar 1.600 di antaranya telah beroperasi. Dalam waktu dekat, tim akan melakukan peninjauan ke beberapa lokasi usulan dapur MBG, termasuk milik Yayasan Asy-Syifa yang kini sedang diajukan secara mandiri.
“Ini program yang sangat mulia. Jangan sampai ada yang menghalangi. Kalau seluruh elemen masyarakat mau duduk bersama, bersinergi, saya yakin bangsa kita akan lebih sejahtera,” pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : Fuad Abida