BLITAR - Di tengah riuh transaksi jual beli di Pasar Hewan Dimoro Bumi Bung Karno, ada satu sosok yang terbilang cukup berjasa dalam melancarkan penjualan.
Mereka adalah penyedia jasa salon sapi. Jelang Hari Raya Idul Adha seperti ini, permintaan jasa salon meningkat.
Suasana Pasar Hewan Dimoro di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, lumayan ramai pada Selasa (3/6/2025). Kebetulan hari itu merupakan pasaran pasar sapi dan kambing sehingga banyak pedagang berjualan di pasar.
Mulai dari pedagang lokal hingga luar daerah datang.
Menjelang Hari Raya Kurban seperti ini, jumlah pedagang yang berjualan di Pasar Hewan Dimoro lebih banyak. Mereka berlomba-lomba menjual sapi dan kambingnya untuk kebutuhan kurban. Yakni dengan harga yang melonjak dan bersaing antarpedagang satu dengan lainnya.
Di pasar hewan itulah, transaksi alot antara penjual dan pedagang terjadi. Tawar-menawar harga yang cocok dan akhirnya sepakat beli. Rata-rata harga sapi untuk kurban naik Rp 2 juta daripada hari-hari biasa.
Namun, di tengah aktivitas perekonomian jual beli sapi dan kambing itu, ada sosok yang berpengaruh dalam penjualan hewan kurban. Dialah penyedia jasa salon sapi.
Di Pasar Hewan Dimoro, ada sejumlah tukang salon yang menjajakan jasanya untuk merapikan kuku dan tanduk agar terlihat cantik nan menawan.
Adalah Nur Rohman, salah satu tukang salon sapi tersebut. Pria yang berasal dari Tulungagung ini sengaja datang ke Pasar Hewan Dimoro Kota Blitar untuk menawarkan jasanya kepada pemilik atau pedagang sapi.
“Biasanya jelang Hari Raya Kurban ini banyak permintaan salon. Jika sapi sudah disalon akan menambah nilai jual. Memang ada pengaruhnya,” kata pria 58 tahun ini.
Aktivitas salon sapi itu dilakukan di bagian paling timur pasar sapi. Di situ, ada tempat khusus untuk para penyedia jasa salon sapi untuk bekerja.
“Jadi, kami butuh tempat yang luas dan sepi agar bisa bekerja. Tidak mengganggu transaksi,” ujarnya.
Lewat tangannya, satu demi satu kuku sapi dipotong lalu dirapikan. Semua tahap dilakukan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai sapi memberontak dan mengancam keselamatannya.
“Kalau sampai berontak, risikonya ya bisa kena tendang. Makanya saya siapkan antisipasi dengan mengikat serta dilakukan dengan tenang,” ujarnya.
Selain merapikan kuku, dia juga merapikan tanduk. Kuku maupun tanduk yang tampak kotor dan kurang menarik langsung dikikir. Setelah semua selesai dilakukan, baru diserahkan kembali ke pedagang.
Tarifnya tergantung pekerjaannya. Jika diminta untuk merapikan kuku dan tanduk, tarifnya Rp 50 ribu, sedangkan jika hanya merapikan kuku dibanderol Rp 40 ribu. “Satu ekor sapi bisa memakan waktu sekitar 15 menit,” tuturnya.
Di momen menjelang Hari Raya Idul Adha, Nur Rohman bisa menggarap minimal 10 ekor sapi. Sementara di hari biasa atau normal, dia rata-rata mengerjakan 7-8 ekor sapi.
Lewat keberadaan salon sapi ini minimal bisa membawa dampak positif bagi penjualan hewan kurban. Mendongkrak harga karena calon hewan kurban tampak rapi dan sehat. ”Alhamdulillah, ramai, dan semoga membawa berkah bagi pedagang,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah