BLITAR - Tidak banyak gerakan atau kelompok anak muda yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Namun, Banda 1942 memecahkan itu dan terbukti beraksi mengecat marka dan menambal jalan demi kenyaman pengguna jalan.
Dalam senyap, mereka datang. Bukan membawa spanduk protes atau poster tuntutan, melainkan cangkul, cat, semen, dan tekad. Namanya Banda 1942, sebuah gerakan akar rumput yang lahir dari keresahan atas jalan-jalan rusak di Blitar.
Tidak mengatasnamakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), tidak juga ormas. Hanya lima anak muda dengan hati yang tergerak dan rasa memiliki terhadap tanah tempat mereka tumbuh.
"Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kami bergerak karena hati. Sosial impact, bukan politis," ujar salah satu perwakilan tim Banda 1942 yang enggan disebutkan namanya, kemarin (8/6).
Kepada Jawa Pos Radar Blitar, dia meminta untuk merahasiakan identitasnya.
Dia lantas menceritakan awal gerakan sosial ini terbentuk. Bermula dari sebuah pengalaman pribadi yang menyentuh.
Salah satu guru dari anggota tim Banda pernah harus dirujuk ke rumah sakit di Malang akibat kondisi darurat.
Perjalanan panjang selama 1 jam itu membuka mata mereka bahwa jalan bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi kehidupan.
Terlihat jalan sebagai tempat orang berangkat sekolah, mencari nafkah, hingga menyelamatkan nyawa. Momen itu terjadi pada 2023.
Namun, gagasan itu baru tumbuh dan matang pada 2025 atau lebih tepatnya saat Ramadan. Mereka akhirnya bertemu dengan pemikiran yang sama, yakni bertekad memperbaiki infrastruktur jalan yang ada di sekitar mereka.
Baca Juga: Menikmati Sensasi Sarapan Pecel di Puncak Kebun Teh Sirah Kencong di Blitar: Lebih Lezat
Lalu, lahirlah Banda 1942, yang baru-baru ini menyita perhatian publik karena aksinya di media sosial yang viral.
Pemuda ini menceritakan, aksi pertama Banda 1942 bukan pengecoran besar-besaran, melainkan mengecat jalan. Lokasi awalnya di Desa Mronjo, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar.
Dengan dana seadanya dari patungan internal, mereka membuat marka agar pengguna jalan lebih waspada,terhadap jalan berlubang.
Namun, sebuah kejadian membuat gerakan itu naik level. "Ponakan teman kami jatuh di Dusun Sambong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro. Giginya patah tiga. Ternyata itu wilayah yang kami cat beberapa hari sebelumnya," kenang dia.
Mereka lalu memperbaiki jalan di Desa Tumpang, Kecamatan Talun, hingga masuk Dusun Sambong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro. Di sana, saat hendak meminjam cangkul ke warga, kembali terdengar kabar bahwa ternyata dua kecelakaan terjadi di titik yang sama dalam sehari.
Dari situlah, Banda 1942 memutuskan untuk tidak hanya mengecat, tapi mengecor lubang jalan tersebut.
"Sejak itu kami tahu, ini tidak bisa setengah-setengah. Harus konkret," katanya.
Gerakan ini tidak berjalan mengikuti kalender seremonial. Mereka tidak beraksi setiap Hari Pahlawan atau Hari Kemerdekaan. Tapi jika momennya tepat, maka mereka bergerak. Salah satunya pada peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni lalu.
"Sudah terlalu banyak ucapan selamat di media sosial. Kami ingin membuat sesuatu yang nyata. Jadi, 1 Juni kemarin, kami melakukan perbaikan jalan yang berkolaborasi dengan santri Mambaus Sholihin," ucapnya.
Tanpa sponsor, tanpa investor, semua murni dari iuran anggota. Hingga kini sudah 11 titik yang mereka benahi. Sembilan di antaranya dengan pengecatan, sedangkan dua lainnya dilakukan dengan pengecoran.
Bagaimana dengan respons warga? Sangat positif. "Ada yang ngasih air minum, roti, bahkan bantu beli makan. Rasanya seperti kembali ke era gotong royong zaman dulu," tuturnya.
Menurut tim Banda 1942, nama "Banda" bukan sekadar singkatan. Itu diambil dari Banda Neira, pulau kecil di Maluku yang pernah menjadi lokasi pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir. Tempat yang dulu dipandang sepi, tetapi ternyata menyimpan pengaruh besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.
Bahkan, pemandangan pada pulau tersebut menakjubkan dan eksotis.
Sementara itu, angka 1942 merujuk pada tahun pembebasan Bung Hatta dari pengasingan. "Bagi kami, itu simbol pembebasan. Termasuk pembebasan dari gaya hidup konsumtif yang tak berdampak sosial," jelasnya.
Meskipun gerakan ini baru berusia seumur jagung, Banda 1942 sudah mendapat perhatian netizen di sosial media, terutama pengguna TikTok.
Netizen mulai menyarankan lokasi perbaikan jalan di luar Blitar, mulai dari Sragen, Banyuwangi, hingga Lampung.
Namun untuk saat ini mereka masih fokus di Blitar, terutama wilayah kabupaten. Bukan karena tidak mau menjangkau kota, melainkan lebih karena logistik dan urgensi.
"Kami sadar, jalan di desa meskipun rusak, tapi kendaraan melaju pelan. Berbeda dengan jalan kabupaten atau provinsi yang rawan kecelakaan karena dilalui kendaraan dengan kecepatan tinggi,” pungkasnya. (*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah