Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Industri Pande Besi Spesialis Pisau di Kota Blitar Ini Tetap Bertahan hingga Turun Temurun, Kini Berada di Tangan Generasi Kedua

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 11 Juni 2025 | 21:30 WIB
Terasah: Pekerja pande besi di Kelurahan Gedog Kecamatan Sananwetan sedang melakukan uji coba ketajaman pisau
Terasah: Pekerja pande besi di Kelurahan Gedog Kecamatan Sananwetan sedang melakukan uji coba ketajaman pisau

BLITAR - Suara logam ditempa bersahutan dari salah satu rumah di Kelurahan Gedok, Kecamatan Sananwetan, itu. Halaman rumah tersebut telah diubah menjadi bengkel kerja untuk memproduksi berbagai model pisau.

Mungkin warga Kota Blitar tak asing dengan produk pisau bermerek Nisoku. Nah, pemilik merek tersebut adalah ayah Rama.

Meneruskan usaha sang ayah tentu tidak mudah, apalagi saat ini Rama harus bersaing dengan pisau-pisau buatan pabrik. Meskipun tergolong masih muda, tapi tangannya tampak cekatan memeriksa bilah-bilah tajam.

Memastikan tak ada yang cacat di pisau-pisau yang baru keluar dari api. Selain Rama, tampak enam pekerja lain juga tengah sibuk. Ada yang menempa, ada pula yang menghaluskan bilah dengan mesin gerinda. Semua sedang berpacu dengan waktu.

“Kalau menjelang Lebaran haji memang cukup ramai, baik untuk servis dan pesanan pisau pasti naik, Mas,” ungkap pemuda 25 tahun ini.

Namun, jumlah permintaan dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu ikut menggerus dalam usaha para pandai besi tradisional. Bahkan mungkin saat ini para pandai besi yang memproduksi pisau tinggal hitungan jari yang masih bertahan di Kota Blitar.

“Pandemi beberapa waktu lalu masih terasa sampai saat ini. Meskipun jumlah pandai besi berkurang, namun permintaan juga menurun drastis,” ujarnya, sambil sesekali mengusap keringat di wajahnya.

Jika sebelum Covid-19 melanda bisa mengerjakan pesanan hingga ratusan unit per bulan, tetapi kini harus menunggu klien dengan lebih sabar. Bahkan terkadang yang datang hanya untuk servis pisau, bukan membeli produk baru. “Dulu bisa ratusan unit yang terjual, sekarang cukup sulit. Akhirnya memang harus pandai melakukan promosi, bersaing dengan buatan pabrik,” akunya.

Paling ramai yang datang adalah untuk jasa servis asah pisau. Meskipun harga hanya Rp 20 ribu untuk satu pisau, tetapi sehari cukup banyak konsumen yang datang untuk menajamkan pisau. “Ya, banyak yang datang untuk servis. Sekali menajamkan dan memperbaiki kondisi pisau Rp 20 ribu,” ujarnya.

Saat Lebaran haji seperti beberapa waktu lalu, cukup banyak pesanan yang datang. Kurang lebih ada 50 unit produk yang terjual, khususnya untuk pisau sembelihan hewan kurban. Namun, setelah momentum tersebut, kondisi kembali sepi. Hanya sesekali datang pesanan khusus dari luar kota.

“Kami juga tetap menerima pesanan khusus untuk model dari pemesan. Untuk harga lebih tinggi dari yang biasa, karena memang membutuhkan perhatian khusus, karena model dan bentuknya dari pemesan,” ungkapnya.

Nisoku dulunya fokus memproduksi pisau militer. Seiring waktu, kebutuhan pasar semakin beragam. Kemudian mencoba merambah ke bentuk pisau lain untuk pertanian, pisau sembelih, dan pisau dapur.

“Saya adalah generasi kedua yang meneruskan usaha tersebut. Meskipun jumlah penjualan menurun, tapi masih ada yang setia untuk membuat pisau khusus,” terangnya. (*/c1/ady)

Editor : Fuad Abida
#blitar #logam #industri #Pande Besi #Kota Blitar #pisau