BLITAR – Puluhan kucing liar yang dibuang di kawasan Pasar Srengat menimbulkan keresahan bagi warga dan pedagang sekitar. Fenomena ini makin masif dalam beberapa bulan terakhir hingga memicu gangguan kebersihan dan ketertiban lingkungan.
Menurut Ilham Baha’udin, salah satu warga sekaligus pedagang di kawasan Pasar Srengat, kondisi ini sudah berlangsung cukup lama.Namun, intensitas pembuangan kucing meningkat sejak beberapa orang asing rutin memberi makan kucing di sekitar pasar.
“Biasanya mereka datang setelah Asar, Magrib, atau Isya. Mungkin mereka cat lover, ya. Tapi karena sering ada yang memberi makan, makin banyak orang yang buang kucing di area Pasar Srengat,” terangnya kepada Radar Penataran, kemarin (10/6).
Kucing yang dibuang rata-rata dalam kondisi kurang sehat. Ada yang masih anakan, ada pula yang sakit atau berpenyakit kulit. Beberapa kucing juga dimungkinkan berasal dari pemilik yang tak sanggup lagi memelihara karena sudah terlalu banyak peliharaan.
Kondisi ini berdampak pada aktivitas warga. Tak hanya di area pasar, kucing-kucing liar tersebut juga masuk ke rumah warga saat malam hari. Mereka kerap membongkar tempat sampah, masuk ke dapur, bahkan mengganggu hewan peliharaan lain seperti burung.
“Pernah burung saya dijemur di luar, kandangnya digoyang-goyang sama kucing. Burungnya jadi stres. Kami pernah menegur yang memberi makan kucing, namun jawabnya sudah izin ke pemilik toko. Tapi saat ditegur ya kayak cuek saja. Padahal dampaknya ke kami semua,” keluhnya.
Lingkungan sekitar pasar sebenarnya sudah membahas masalah ini. Salah satu solusi yang dirancang adalah pemasangan banner larangan membuang kucing dan memberi makan di area pasar. Namun, penegakan aturan masih lemah.
Ilham menyebut, kini jumlah kucing di kawasan pasar diperkirakan mencapai sekitar 50 ekor. Sekali buang, biasanya terdapat tiga sampai lima anak kucing. Bahkan, beberapa di antaranya mati tertabrak kendaraan karena tidur di badan jalan.
Ilham berharap ada penanganan dari pihak berwenang. Termasuk edukasi masyarakat dan penampungan bagi kucing-kucing yang dibuang. “Setahu saya dulu ada selter di Srengat. Tapi sekarang tidak tahu masih aktif atau tidak. Kalau bisa ya ada perhatian dari dinas juga,” sarannya. (jar/c1/sub)
Editor : Fuad Abida