BLITAR – Upaya penghadangan antaranggota perguruan silat nyaris berujung bentrok di wilayah Kelurahan Kembangarum, Kecamatan Sutojayan, pada Sabtu (14/6) malam. Beruntung, aparat dari Polsek Panggungrejo yang mengawal kegiatan berhasil meredam potensi kericuhan tersebut.
Kasi Humas Polres Blitar, Ipda Putut Siswahudi mengatakan.
Insiden bermula ketika rombongan salah satu perguruan silat tengah dalam perjalanan pulang usai mengikuti istighosah di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto. Saat melintasi jalur Kelurahan Kembangarum, rombongan itu tiba-tiba dihadang oleh sekitar 80 orang yang diduga merupakan oknum anggota perguruan lain dari Tulungagung.
“Polres Blitar yang menerima laporan kejadian langsung bergerak cepat ke lokasi. Hasilnya, enam pemuda yang diduga terlibat penghadangan diamankan, beserta 14 unit sepeda motor yang diduga digunakan dalam aksi penghadangan ini,” katanya.
Putut melanjutkan, dari 14 kendaraan yang disita, empat unit langsung ditindak dengan tilang. Sementara 10 kendaraan lainnya belum bisa diproses karena pemiliknya melarikan diri saat penertiban dilakukan. Adapun enam orang yang diamankan, yakni RR, 18, warga Rejotangan, Tulungagung; AR, 21, warga Kecamatan Sutojayan; WR, 17, dan AM, 19, warga Kecamatan Bakung; WC, 18, dan JM, 19, keduanya warga Kecamatan Kalidawir, Tulungagung.
Keenamnya kini tengah didata dan menjalani pemeriksaan di Mapolres Blitar. “Kami masih melakukan pendalaman serta mengidentifikasi pemilik kendaraan lain yang belum diketahui keberadaannya. Nantinya, kami panggil pemiliknya untuk mengambil kendaraan dan dimintai keterangan dalam keterlibatan pada peristiwa penghadangan,” ungkapnya.
Sebagai bentuk pendekatan persuasif dan edukatif, keenam pemuda yang diamankan bakal dipulangkan kepada orang tua masing-masing, dengan dijemput secara resmi. Mereka akhirnya mengaku menyesal telah merencanakan bentrokan ini.
Sementara itu, Kapolres Blitar, AKBP Arif Fazlurrahman mengimbau, seluruh masyarakat, khususnya warga perguruan silat, untuk tidak mudah terprovokasi dan menjaga kondusivitas wilayah.
Terlebih, dalam suasana menjelang bulan Suro dan pelaksanaan agenda suroan agung aman damai. “Kegiatan keagamaan dan kebudayaan harus dijaga marwahnya. Kami minta seluruh elemen mematuhi maklumat bersama demi keamanan bersama,” pungkasnya. (jar/ynu)
Editor : Fuad Abida