BLITAR - Atlet Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX 2025 baru saja diberangkatkan Bupati Blitar pada Sabtu (21/6/2025) sore. Meskipun begitu, cabang olahraga pacuan kuda sudah lebih dulu bertanding sejak dua hari sebelumnya. Tampil di Areena Pacuan Kuda di Desa Pikatan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar anak daerah membuktikan diri dengan meraih dua medali.
Dia bernama Hardin Bagas Pramana. Mencuat sebagai salah satu andalan Kabupaten Blitar, atlet pacuan kuda berusia 23 tahun asal Desa Pikatan, Kecamatan Wonodadi, ini sukses membawa pulang dua medali sekaligus. Yakni, emas dari kelas C 1.600 meter serta perak dari kelas B 1.800 meter. Tentu prestasi itu bukan hasil instan, melainkan dari hasil proses latihan yang panjang.
“Saya telah menjalani latihan intensif selama lebih dari tiga bulan untuk menghadapi porprov. Latihan hampir setiap hari, Mas. Hanya libur seminggu sekali. Itu pun tergantung kondisi kuda yang saya joki," ungkapnya sambil tersenyum.
Menariknya, selama masa persiapan, Hardin harus bolak-balik dari Talun ke Pikatan. Sebab, dua dari tiga kuda pacu yang dia tunggangi berada di dua lokasi berbeda.
Hal itu menjadi kendalanya , sebab kadang Hardin harus melakukan latihan di Talun, satunya lagi di Pikatan, sehingga harus pintar-pintar atur waktu dan tenaga.
Hardin mengaku lawan terberat di porprov kali ini datang dari kontingen Kota Kediri dan Pasuruan. Menurutnya dari Kediri itu memang berat karena kudanya bagus-bagus.
Meski demikian, dia tetap tampil maksimal dan berhasil mengalahkan pesaing-pesaingnya. Keberhasilan tahun ini menjadi momen pembuktian, setelah pada porprov sebelumnya hanya duduk di bangku cadangan.
“Dulu sempat jadi cadangan, enggak turun langsung. Sekarang alhamdulillah bisa bawa dua medali untuk Blitar. Sebenarnya saya bermain di joki tiga kuda dengan nomor berbeda. Namun yang berhasil hanya dua nomor. Satu nomor hanya berhasil ranking 5,” ucapnya bangga.
Darah joki kuda memang mengalir deras di tubuh Hardin. Sebab, ayah dan kakaknya, Riska Dwi Cahya, memang joki kuda terkenal yang tentunya mengajarinya hingga kini menjadi atlet pacu. Sejak kecil, Hardin sudah terbiasa berada di atas pelana.
“Saya pertama naik kuda sejak SD. Umur 12 tahun sudah ikut jadi atlet,” kenangnya.
Latihan yang dijalani Hardin tidak hanya melatih kuda, tetapi juga menjaga kondisi fisik dan berat badan.
Baginya paling berat itu menjaga berat badan. Karena sebelum turun lomba, joki pasti ditimbang sehingga harus betul-betul disiplin makan dan olahraga.
Tak ingin cepat puas, Hardin sudah menatap target baru untuk Pekan Olahraga Nasional (PON). Dia berharap bisa masuk dalam kontingen Jawa Timur dan mengibarkan bendera Blitar di ajang bergengsi tingkat nasional itu.
Dengan usia muda dan semangat besar, langkah Hardin di lintasan pacuan belum akan berhenti.
“Mimpi saya ya bisa ikut PON dan juara. Tinggal nunggu dipanggil dan berusaha tampil terbaik. Kalau masih boleh ikut porprov berikutnya, saya siap,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah