BLITAR - Di Kelurahan Bendogerit, Kota Blitar, ratusan bahkan ribuan peziarah datang hampir setiap harinya untuk berziarah di Makam Bung Karno (MBK).
Mereka datang dari berbagai penjuru daerah dengan satu tujuan, menundukkan kepala seraya berdoa di hadapan pusara untuk sang proklamator dan Presiden pertama RI itu.
Makam Bung Karno bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan simbol refleksi nasional, ziarah sejarah, dan semangat kebangsaan.
Baca Juga: Seluruh Kloter Jemaah Haji Kabupaten Blitar Akhirnya Tiba di Kampung Halaman
Sejak pemakaman Bung Karno pada 21 Juni 1970, kompleks ini berkembang menjadi ruang spiritual dan edukatif. Arsitekturnya khas Jawa Timur, dengan joglo beratap tembaga dan pintu gerbang Candi Bentar yang menyambut setiap pengunjung dengan nuansa sakral.
“Rasanya beda. Begitu masuk kompleks, suasananya langsung hening dan dalam,” kata Abdul, salah seorang peziarah.
Di momen haul tahunan, jumlah peziarah bisa membeludak hingga 25.000 orang dalam sehari.
Baca Juga: Candi Penataran Blitar: Jejak Megah Peninggalan Kerajaan Majapahit di Kaki Gunung Kelud
Tak hanya berdoa dan menabur bunga, pengunjung juga bisa menjelajah museum dan perpustakaan Bung Karno yang berada di area yang sama. Koleksi seperti koper tua, naskah-naskah perjuangan, foto lawas, dan uang kuno tersimpan sebagai jejak sejarah yang hidup. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah