BLITAR - Makam Bung Karno (MBK) bukan hanya destinasi ziarah spiritual, tapi juga mesin penggerak pariwisata dan ekonomi lokal Blitar.
Setiap tahun, jutaan wisatawan dari berbagai daerah mengalir ke kawasan ini — membuat warung, kios souvenir, dan UMKM sekitar tersenyum lebar.
Suvenir khas seperti patung mini Bung Karno, kaos bergambar kutipan pidato, hingga gantungan kunci ramai diburu pengunjung. Tak ketinggalan kuliner legendaris Blitar seperti pecel khas dan kopi lokal yang dijual di warung-warung sekitar kompleks makam dan museum.
Menurut data Pemkot Blitar, kunjungan ke Makam Bung Karno menyumbang lebih dari Rp 1 miliar Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya dalam enam bulan pertama tahun ini. Saat haul atau libur panjang, pengunjung bisa mencapai puluhan ribu per hari.
Akses ke lokasi pun mudah. Hanya 2,5 km dari Alun-Alun Blitar dan 3 km dari stasiun, makam ini bisa dijangkau kendaraan umum maupun pribadi.
Fasilitas seperti toilet, mushola, parkir, gazebo, hingga area istirahat juga tersedia lengkap.
“Kalau Bung Karno hidup hari ini, mungkin beliau bangga karena makamnya ikut membangkitkan ekonomi rakyat kecil,” celetuk seorang pengunjung sambil menyeruput kopi hangat di bawah pohon rindang. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah