BLITAR - Padepokan Eyang Djoego di Dusun Sanggrahan, Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar menjadi titik awal napak tilas malam 1 Sura 1959.
Ratusan peserta dari berbagai daerah hadir untuk mengikuti agenda tahunan mengenang perjalanan Eyang Djoego dari Desa Jugo menuju ke Gunung Kawi.
Napak tilas perjalanan lintas kabupaten ini selalu mendapatkan antusias tinggi dari masyarakat.
Mulai pukul 15.00 WIB, ratusan peserta napak tilas menyusuri jalan lintas kabupaten, dari Kabupaten Blitar menuju Kabupaten Malang.
Yakni, menyusuri desa-desa di Kecamatan Kesamben seperti Jugo, Kesamben, Pagerwojo, Tapakrejo, Bumirejo, lalu masuk Desa Kalimanis, Kecamatan Doko, serta Desa Ampelgading, Kecamatan Selorejo, sebelum masuk wilayah Kabupaten Malang, yakni Desa Sumberdem dan Desa/Kecamatan Wonosari, lokasi Pesarean Gunung Kawi, dini hari ini.
Total jarak yang ditempuh sekitar 40 kilometer.
Lebih dari 500 orang mengikuti napak tilas yang membawa tumpeng hasil bumi dan pusaka Eyang Djoego.
Usai pembukaan serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Pancasila, para peserta napak tilas segera berangkat berjalan kaki menuju ke Pesarean Gunung Kawi.
“Napak tilas ini menempuh perjalanan dari Desa Jugo menuju ke Pesarean Gunung Kawi,” jelas juru kunci Padepokan Eyang Djoego, Bopo Arif Yulianto Wicaksono.
Dalam prosesi akhir di Pesarean Gunung Kawi, ada penyerahan tumpeng kepada juru kunci Pesarean Gunung Kawi, dan para peserta napak tilas juga berziarah ke makam Eyang Djoego serta menggelar doa bersama.
Selama perjalanan, peserta napak tilas juga berhenti di pos pertama di Dusun Genuk, Desa Kalimanis, untuk mendapatkan makan dan minum dari panitia dan perjalanan berlanjut ke pos kedua di Desa Ampelgading, tempat tim kesehatan berjaga dan ada area istirahat.
Agenda tahunan ini juga dihadiri anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar, Camat Kesamben, para kepala desa (kades) se-Kecamatan Kesamben, hingga masyarakat dan simpatisan dari berbagai daerah. (ynu/c1)
Editor : M. Subchan Abdullah