Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menjaga Tradisi dan Budaya "Ngudek Jenang" untuk Generasi Muda di Wisata Edukasi Omah Jenang Blitar

M. Subchan Abdullah • Sabtu, 28 Juni 2025 | 03:45 WIB
TRADISIONAL: Pekerja mengemas jenang yang sudah matang untuk dipasarkan Omah Jenang.
TRADISIONAL: Pekerja mengemas jenang yang sudah matang untuk dipasarkan Omah Jenang.

 

BLITAR - Jenang kini bukan lagi menjadi produk sakral yang hanya bisa dinikmati ketika momen pernikahan. Namun kini sudah menjelma menjadi produk yang bisa ditemui di pasaran. Lewat tangan Hendri Christiawan, jenang dikembangkan menjadi wisata edukasi demi mempertahankan warisan leluhur.

Aroma manis khas jenang menyeruak dari sebuah bangunan sederhana di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan. Dari kejauhan, tampak sejumlah orang sibuk mengaduk suatu adonan di wajan di atas tungku. Asap putih dari tungku mengepul menghiasi ruangan sederhana itu.

Sembari mengaduk, sesekali mereka tertawa renyah. Bercerangkama. Suasana terasa hangat. ”Ini adonan ketan, Mas. Nantinya jika sudah matang jadi jenang ketan,” kata salah seorang dari mereka.

Di Omah Jenang, mengaduk jenang merupakan aktivitas sehari-hari. Mereka memproduksi jenang untuk kebutuhan pasar, khususnya produk oleh-oleh khas Blitar.

Omah Jenang bukan sekadar pusat oleh-oleh, melainkan menjelma jadi ruang budaya yang membuka wawasan akan kuliner warisan leluhur yang kini mungkin hampir dilupakan generasi muda.

Namun, tak semudah membalik wajan panas, perjalanan Hendri Christiawan, pemilik usaha omah Jenang, penuh tantangan dan hambatan.

Sejak memutuskan membuka pusat oleh-oleh di lokasi yang jauh dari hiruk-pikuk kota, dia justru disambut cibiran.

Sopo sing arep tuku? Buka kok di tengah desa (siapa yang mau beli, buka kok di tengah desa),” tutur Hendri, menirukan suara-suara sinis yang tak jarang datang dari orang terdekatnya sendiri, kala itu.

TRADISI: Hendri Christiawan bertekad terus melestarikan jenang dan mengenalkan kepada generasi muda.
TRADISI: Hendri Christiawan bertekad terus melestarikan jenang dan mengenalkan kepada generasi muda.

Tekad Hendri tak surut. Usaha keluarga yang kini sudah di tangan generasi kedua ini terus dikembangkan olehnya.

Berbagai kreasi dan inovasi dilakukan demi produk jenang tetap diminati di pasaran.

Dia percaya, jika dikemas dengan cara yang tepat, jenang bisa menjadi lebih dari sekadar makanan manis.

Dia ingin menciptakan pengalaman baru: dari sekadar mengolah jenang di dapur tradisional, lahirlah konsep wisata edukasi Omah Jenang.

Sebuah tempat di mana pengunjung bisa belajar langsung mengudek jenang secara tradisional—dari mengolah santan dan ketan, hingga memahami filosofi yang melekat di setiap adukan.

“Orang tahunya wisata itu pantai, air terjun, taman. Tapi, saya ingin kenalkan pawonan sebagai tempat berwisata,” tutur Hendri. Meski pada awalnya tak banyak yang memahami gagasannya, dia terus bergerak. Membangun jaringan, lakukan promosi, dan libatkan banyak pihak.

Lambat laun, skeptisisme berubah menjadi decak kagum. Rombongan demi rombongan berdatangan. Dari anak sekolah, mahasiswa, hingga komunitas dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tak sedikit yang datang dengan bus besar.

“Kadang sepuluh bus. Ruangan yang ada malah jadi gak cukup,” kata Hendri dengan senyum bangga.

Omah Jenang tak hanya menyajikan jenang sebagai oleh-oleh. Di sana, pengunjung diajak menyelami sejarah dan nilai-nilai di balik makanan tradisional ini.

Jenang, menurut Hendri, bukan sekadar panganan, melainkan simbol cinta, doa, dan gotong royong.

“Kalau zaman dulu, jenang itu makanan sakral. Disajikan saat hajatan, penuh doa. Sekarang, saya ingin generasi muda tahu itu,” ujarnya.

Tak hanya lewat cerita, pengalaman langsung mengudek jenang menjadi daya tarik utama. “Ada anak muda yang belum tahu apa itu jenang.

Di sini, mereka bisa pegang sendiri, aduk sendiri, foto bareng. Mereka jadi punya memori,” jelas pria yang akrab disapa Sinyo ini.

Di tengah maraknya makanan cepat saji dan budaya instan, Hendri justru membuktikan bahwa warisan kuliner bisa menjadi kekuatan ekonomi dan budaya—asal dikelola dengan visi.

Dia bahkan membangun Muara Jenang Center, pusat edukasi dan produksi skala besar, sebagai bukti keseriusannya menjaga tradisi sekaligus mendorong ekonomi kreatif.

Capaian ini bukan semata untuk membanggakan diri, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap warisan ayahnya.

“Bapak ingin usaha yang sederhana, tapi butuh kerja keras. Proses bikin jenang itu lama, makanya tak semua orang mau,” kenangnya.

Kini, Hendri mampu mengembangkan usaha itu dari skala lokal menjadi dikenal nasional tanpa harus bergantung pada nama besar toko lain.

Lewat Omah Jenang, Hendri juga punya harapan besar: menjadikan jenang sebagai lambang cinta dan tradisi.

“Saya punya tagline ‘katakan cinta dengan jenang’. Karena di masyarakat kita, kalau sudah bawa jenang, berarti serius. Sudah lamaran,” ucapnya sambil terkekeh. (*/c1/ady)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#generasi muda #budaya #Hendri Christiawan #Kabupaten Blitar #produk #Omah Jenang #sakral #edukasi #wisata #Ngudek Jenang #tradisi #kademangan #pernikahan