BLITAR KAWENTAR - Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, mencatatkan rekor suhu tertinggi pada bulan Juni.
Spanyol mengalami suhu hingga 46 °C, menjadi salah satu rekor terpanas dalam sejarah mereka.
Sementara itu, Inggris mencatatkan bulan Juni terpanas sejak 1884, dengan suhu rata-rata jauh di atas normal, memicu peringatan kesehatan dan kekhawatiran gagal panen.
Di Prancis, pemerintah terpaksa menutup beberapa sekolah untuk melindungi anak-anak dari dampak panas ekstrem.
Mereka juga membuka “oasis iklim” berupa ruang publik ber-AC dan area hijau yang dapat digunakan masyarakat rentan, seperti lansia dan anak-anak, untuk mengurangi risiko dehidrasi dan serangan panas.
Selain dampak kesehatan, gelombang panas ini memicu kekhawatiran gagal panen di berbagai wilayah Eropa.
Baca Juga: Proteksi Radiasi di Radiologi Diagnostik untuk Pelayanan Kesehatan yang Aman
Tanaman gandum dan jagung di Spanyol, Prancis, dan Italia mengalami kerusakan akibat tanah yang mengering, memicu kenaikan harga pangan lokal.
Kebakaran hutan juga mulai terjadi di Portugal dan Yunani, memaksa evakuasi ratusan warga.
Para ahli iklim menegaskan bahwa gelombang panas ini merupakan dampak nyata dari perubahan iklim, dengan frekuensi dan intensitas gelombang panas meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut suhu panas ekstrem di Eropa berpotensi menjadi “normal baru” jika emisi karbon tidak dikurangi secara signifikan.
Pemerintah di beberapa negara Eropa mengimbau masyarakat untuk:
• Mengurangi aktivitas di luar rumah pada siang hari
• Minum air putih secara teratur
• Memakai pakaian ringan dan topi saat di luar ruangan
• Memerhatikan kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak
• Mengikuti informasi terkini dari pihak berwenang terkait kondisi cuaca
Gelombang panas ini diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan Juli dengan potensi kenaikan suhu lebih tinggi jika angin panas dari Afrika Utara terus bergerak ke wilayah Eropa.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah