Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kios Buah di Tengah Hutan: Apel Segar yang Menghilang Saat Fajar

Axsha Zazhika • Kamis, 10 Juli 2025 | 03:30 WIB
Kios Buah di Tengah Hutan: Apel Segar yang Menghilang Saat Fajar
Kios Buah di Tengah Hutan: Apel Segar yang Menghilang Saat Fajar

BLITAR – Sebuah pengalaman supranatural kembali muncul dari jalur sunyi antara Blitar dan Malang, kali ini bukan soal penampakan, melainkan sebuah kios buah di tengah hutan yang misterius.

Tak hanya lokasinya yang janggal, kios tersebut diketahui menjual apel segar yang tak biasa dan lebih anehnya lagi, apel itu menghilang saat fajar.

Cerita ini dialami oleh Rendra dan Tika, pasangan mahasiswa asal Kediri yang kala itu melakukan perjalanan ke Malang untuk membeli buku. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2015, saat keduanya pulang dari Malang menuju Kediri dengan mengambil jalur alternatif lewat Blitar untuk menghindari jalur Ngantang yang bertebing curam dan rawan saat malam.

Malam itu, sekitar pukul 21.00 WIB, usai melewati hutan yang sunyi dan penuh suasana mencekam, mereka tiba-tiba melihat lampu temaram dari kejauhan. Rasa penasaran membawa mereka ke sumber cahaya tersebut. Ternyata, di sana berdiri sebuah kios buah satu-satunya di tengah hutan, dijaga oleh seorang pria tua.

Yang membuat suasana semakin ganjil, sebelum mereka sempat bertanya apa pun, pria itu langsung menyodorkan dua buah apel ke tangan mereka.

“Mas, Mbak, ini dicoba dulu. Makan dulu apel ini,” katanya ramah. Meski awalnya ragu, entah kenapa Rendra dan Tika merasa seperti "terhipnotis", mereka langsung memakan apel itu.

“Apelnya segar banget, rasanya beda dari apel manapun yang pernah aku makan. Padahal sebelumnya aku dan Tika baru makan malam,” cerita Rendra. Tika pun terlihat menikmati apel itu dengan lahap, meskipun perut mereka kenyang.

Setelah apel pertama habis, mereka memutuskan membeli dua kilogram apel lagi. Apel-apel itu kemudian mereka simpan di bawah jok motor matic milik Rendra, diikat dengan tali karet agar tak jatuh selama perjalanan.

Namun keanehan belum berakhir. Setelah mereka meninggalkan kios tersebut dan mulai kembali menyusuri jalanan hutan, Rendra mulai menyadari sesuatu: tidak ada bangunan lain di sekitar kios. Tak ada rumah, tak ada penjual lain. “Kalau biasanya di tempat wisata kan kios buah berderet, ini sendirian, dan di tengah hutan pula,” katanya.

Pikiran mereka makin kacau setelah mengingat peristiwa sebelumnya: penampakan sosok nenek misterius di tengah jalan, serta kondisi Tika yang sejak itu menjadi pendiam dan linglung. Namun karena kondisi gelap dan sunyi, mereka tak punya pilihan selain terus berkendara.

Pukul 04.00 dini hari, mereka akhirnya tiba di Kota Kediri. Saat berhenti di lampu merah, Rendra terkejut. Apel yang sebelumnya diikat kuat di bawah jok motor menghilang tanpa jejak. Tidak ada apel, tidak ada plastik, tidak ada bekas apa pun. Padahal ia yakin apel itu sudah terikat rapat dan tak mungkin jatuh tanpa terasa.

“Saya yakin apel itu enggak mungkin jatuh begitu saja. Apalagi jumlahnya banyak, pasti terasa kalau jatuh di jalan,” ujar Rendra. Keganjilan ini membuat mereka benar-benar bingung dan diam sepanjang sisa perjalanan.

Lebih mengejutkan lagi, beberapa hari kemudian saat Rendra menceritakan pengalamannya kepada temannya yang berasal dari Blitar, temannya langsung merespons dengan nada serius.

“Kamu ketemu kios buah itu ya? Kamu beruntung bisa pulang. Ada banyak cerita soal kios buah di tengah hutan yang muncul hanya malam hari, dan hilang saat fajar,” katanya.

Kisah tentang kios buah gaib di jalur Blitar memang bukan hal baru bagi sebagian warga lokal. Ada yang menyebutnya sebagai bagian dari desa gaib, yang terkadang menampakkan dirinya kepada para pengendara yang tersesat, terutama di malam-malam tertentu. Kios itu diyakini hanya bisa terlihat oleh orang-orang tertentu—dan produk yang dibelinya tidak akan bertahan melewati fajar.

“Kalau kamu bisa membawa pulang apelnya, biasanya besok pagi sudah busuk atau hilang. Itu bukan buah biasa,” ujar Pak Darmin, seorang warga Wlingi yang mengaku pernah mendengar cerita serupa dari para sopir truk yang melintas malam-malam.

Banyak warga meyakini bahwa keberadaan kios tersebut berhubungan erat dengan energi gaib di sekitar kawasan hutan antara Blitar dan Malang.

“Itu tempatnya memang dikenal sebagai area perlintasan makhluk halus. Kadang ada yang melihat pasar, kadang kios buah, tapi selalu hilang saat pagi,” tambahnya.

Cerita ini menambah deretan panjang urban legend lokal dari Blitar, sebuah wilayah yang terkenal dengan sejarah panjang dan suasana magisnya. Keberadaan kios buah di tengah hutan ini kini menjadi bahan perbincangan komunitas pecinta misteri dan kisah supranatural.

Apakah itu hanya ilusi? Ataukah memang ada dimensi lain yang sesekali bersinggungan dengan dunia manusia? Tak ada yang bisa memastikan.

Yang jelas, bagi Rendra dan Tika, pengalaman itu terlalu nyata untuk disebut mimpi. Mereka mencicipi apel yang tak pernah ada, membeli buah yang hilang saat pagi, dan bertemu penjual yang hanya muncul di antara pepohonan—lalu lenyap bersama embun fajar.

Editor : Anggi Septian A.P.
#buah #kios #blitar #misterius #malang #penjual gaib