BLITAR-Di balik rimbunnya hutan yang membentang di jalur sepi antara Blitar dan Malang, tersimpan sebuah cerita yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan warga. Cerita tentang sebuah desa gaib—yang hanya muncul bagi mereka yang "tersesat" dan dikabarkan sebagai desa yang tak semua orang bisa keluar darinya. Warga menyebutnya "Desa yang tidak ada di peta, tapi nyata bagi mereka yang pernah masuk."
Beberapa pekan terakhir, kisah tentang Rendra dan Tika, pasangan muda asal Kediri yang mengaku pernah masuk ke desa gaib di tengah hutan Blitar, kembali mencuat. Cerita ini kembali ramai diperbincangkan usai tayang di kanal YouTube Kembara Sunyi, dan menarik perhatian warga Blitar yang mengaku tidak asing dengan kisah-kisah semacam itu.
Sudah Lama Jadi Bisik-bisik Warga
Salah satu warga Kecamatan Doko, Blitar, Pak Mardi (56), mengungkap bahwa sejak kecil ia sudah sering mendengar cerita tentang desa misterius yang "tidak bisa ditemukan siang hari" namun "mudah dimasuki saat malam.
"Kulo niku mbiyen nek dolan neng alas, nggih asring diparingi pitutur karo simbah. Ojo mlebu alas malam-malam, mengko mlebu kampung jin," ujar Pak Mardi, menggunakan Bahasa Jawa yang bermakna, “Saya dulu waktu main ke hutan, sering diingatkan kakek, jangan masuk malam-malam, nanti masuk kampung jin.”
Menurutnya, kisah Rendra seolah memperkuat mitos lama yang selama ini hanya dianggap cerita rakyat. Terlebih, lokasi dan deskripsi desa yang disebutkan Rendra dalam kisahnya, mirip dengan yang sering digambarkan warga: sebuah kampung dengan banyak warga, anak-anak bermain layangan, dan suasana yang seolah tak mengenal waktu.
"Biasanya, desa-desa aneh seperti itu munculnya pas orang bingung jalan atau lagi linglung. Kadang setelah lewat, baru sadar kalau desa itu tidak nyata,” tambahnya.
Desa yang Tak Terdeteksi Siang Hari
Cerita-cerita yang beredar menyebutkan bahwa desa tersebut tak bisa ditemukan jika dicari secara sengaja.
Bahkan jika seseorang menandai lokasi GPS, titiknya akan bergeser atau menghilang saat pagi menjelang. Beberapa pengendara yang pernah “merasakan keanehan” menyebut sinyal ponsel tiba-tiba hilang, arah kompas kacau, dan suasana seolah berubah drastis.
Rendra dalam kisahnya pun mengungkap, setelah ia dan Tika berhasil keluar dari desa itu dan sampai di jalan raya, mereka sempat menoleh ke belakang—tak ada lagi desa di sana. Hanya ladang tebu luas dan jalan tanah yang membentang kosong.
Fenomena ini membuat banyak orang berspekulasi bahwa yang mereka masuki adalah wilayah mistis—yang dalam istilah Jawa disebut "alas angker" atau "wilayah lintasan makhluk halus."
Cerita Serupa, Tapi Berbeda
Yang menarik, beberapa warga mengaku punya pengalaman serupa tapi tidak identik. Seorang pemuda bernama Doni (29), warga Kecamatan Selopuro, menceritakan bahwa ia dan teman-temannya pernah kehilangan arah saat melintas malam hari dari arah Malang menuju Blitar.
"Kita sempat lihat lampu rumah dari kejauhan, lalu masuk ke desa itu. Tapi makin lama kami makin bingung, warga-warganya banyak, tapi semuanya diem dan nggak merespons," ungkap Doni.
Ia menambahkan, waktu terasa melambat, dan saat mereka sadar, sudah hampir pukul 4 pagi. Anehnya, jalanan yang tadinya mereka lalui, tak bisa ditemukan lagi saat siang hari mereka mencoba menelusuri ulang.
Dipercaya Dijaga "Penunggu"
Berdasarkan kepercayaan lokal, desa-desa gaib seperti ini dijaga oleh makhluk halus yang dikenal sebagai "penunggu alas" atau "pangon kampung jin.
" Biasanya, mereka tidak mengganggu manusia—kecuali orang tersebut melakukan kesalahan, seperti berkata kasar, meludah sembarangan, atau menyepelekan alam.
Dalam kisah Rendra, salah satu momen krusial adalah saat ia misuh dan meludah ke arah sosok nenek yang berdiri di tengah jalan. Beberapa warga menilai, bisa jadi itu pemicu mengapa perjalanan mereka berubah jadi penuh kejanggalan.
"Orang tua dulu selalu bilang, kalau lihat sesuatu yang aneh, diam saja. Jangan dilawan. Jangan diludahi. Karena belum tentu itu makhluk biasa," ujar Bu Lastri (67), warga Desa Kademangan.
Masih Misteri Hingga Kini
Hingga hari ini, tidak ada pihak resmi yang bisa membuktikan keberadaan desa gaib tersebut secara ilmiah. Tidak ada peta, tanda jalan, atau koordinat yang pasti. Namun, banyak pengendara yang memilih untuk menghindari jalur hutan Blitar-Malang di atas pukul 10 malam.
"Kalau lewat malam-malam, saya mending muter lewat Wlingi atau Batu. Jangan lewat hutan. Terlalu banyak cerita yang bikin merinding," kata Supri, sopir truk antar kota.
Sementara itu, kisah Rendra tetap menjadi perbincangan hangat. Banyak yang menganggapnya sebagai hoaks, tapi tak sedikit yang percaya itu nyata. Bahkan, di komunitas supranatural dan pencinta urban legend, Desa Gaib di Hutan Blitar kini menjadi topik pembahasan utama.
Mereka meyakini bahwa Indonesia, terutama wilayah-wilayah seperti Blitar, memang masih menyimpan banyak misteri yang tak terjamah akal, dan desa-desa gaib hanyalah satu dari sekian banyak fenomena yang akan terus hidup dalam cerita rakyat.
Editor : Anggi Septian A.P.