BLITAR – Di tengah lebatnya hutan yang membentang antara Blitar dan Malang, terdapat satu kisah yang tak hanya menyisakan kejanggalan supranatural, tetapi juga meninggalkan luka psikologis mendalam.
Kisah ini datang dari Rendra dan Tika, pasangan muda asal Kediri yang pada tahun 2015 lalu melakukan perjalanan ke Malang. Di perjalanan pulang itulah, mereka mengalami kejadian luar biasa: mendapat apel dari kios misterius di tengah hutan, yang kemudian hilang tanpa jejak, dan membuat Tika mengalami gejala psikis serius.
Apel yang awalnya terasa sangat segar dan nikmat itu, ternyata menyimpan misteri yang belum terpecahkan hingga kini. Tidak hanya hilang secara fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis tak biasa bagi salah satu dari mereka.
Kios Buah yang Tak Biasa
Menurut kesaksian Rendra, dalam perjalanan pulang mereka memilih rute alternatif lewat Blitar karena ingin menghindari jalur Ngantang yang minim penerangan. Namun, ketika malam menjelang, mereka menyadari jalur itu justru jauh lebih sunyi dan menyeramkan. Di tengah hutan yang sepi dan gelap, mereka mendapati satu-satunya kios buah berdiri sendirian, lengkap dengan lampu temaram dan suara gonggongan anjing dari segala penjuru.
Seorang pria tua di kios tersebut langsung menyodorkan dua buah apel merah segar pada Rendra dan Tika, tanpa banyak bicara. Anehnya, mereka berdua langsung memakan apel itu tanpa ragu, seolah kehilangan kendali atas kehendak mereka sendiri.
"Itu apel paling enak yang pernah saya makan," ujar Rendra dalam wawancara dengan kanal Kembara Sunyi. "Padahal kami baru saja makan kenyang, tapi rasanya seperti enggak bisa berhenti."
Setelah menghabiskan buah apel itu, mereka membeli 2 kg apel tambahan dan meletakkannya di bawah jok motor, tepat di kaki Rendra. Namun begitu sampai di Kediri, apel itu hilang begitu saja, tanpa suara, tanpa jejak. Dan lebih ganjil lagi, Tika mendadak linglung dan tidak bisa mengingat dengan jelas peristiwa sepanjang malam itu.
Gejala Psikologis Usai Konsumsi Apel
Sejak kejadian itu, kondisi mental Tika tidak stabil. Ia kerap diam dalam waktu lama, sulit diajak berbicara, bahkan tidak bisa menceritakan kembali apa yang ia alami malam itu.
Saat Rendra bertanya soal nenek misterius, kios buah, atau mobil klakson yang membuntuti, Tika hanya menunduk atau menggeleng pelan, seperti tidak ingin atau tidak mampu mengingat.
Dalam salah satu konsultasi dengan psikolog yang dilakukan Rendra, disebutkan bahwa Tika kemungkinan mengalami gejala disosiasi ringan hingga sedang—sejenis reaksi psikologis akibat tekanan emosional hebat yang membuat pikiran "memisahkan diri" dari kenyataan.
"Dissociative amnesia bisa terjadi ketika seseorang mengalami trauma atau pengalaman yang sangat tidak masuk akal dan otak memilih untuk mengabaikannya," jelas dr. Wening Purnama, seorang psikolog klinis di Blitar yang menanggapi kasus ini secara netral. "Namun jika faktor mistis terlibat, maka ranahnya sudah bukan medis murni lagi."
Apel yang Tak Terdeteksi
Yang lebih membingungkan, ketika Rendra mencoba melaporkan kios apel di tengah hutan itu pada aparat desa dan warga sekitar, tidak ada seorang pun yang tahu ada kios buah di lokasi tersebut.
"Biasanya kalau ada penjual di area hutan, itu musiman. Tapi kalau hanya satu kios berdiri sendiri, apalagi aktif malam hari? Wah, itu saya baru dengar," ujar seorang perangkat desa di Blitar yang enggan disebutkan namanya.
Sinyal ponsel yang hilang, suasana desa yang tak masuk akal, hingga apel yang lenyap tiba-tiba, semuanya mengarah pada fenomena supranatural yang sulit dijelaskan secara rasional. Hingga kini, Rendra masih menyimpan rasa bersalah karena mengajak Tika melewati jalur tersebut, meski mereka sudah berusaha mencari alternatif teraman.
Pertolongan dari Doa Ibu?
Yang paling menyentuh dari kisah ini adalah akhir perjalanan mereka yang berhasil kembali ke jalan utama, berkat lampu-lampu desa yang tiba-tiba muncul, dan kehadiran sebuah truk yang seperti "menuntun" mereka pulang. Rendra percaya bahwa doa sang ibu yang khawatir sejak malam menjadi penyelamat mereka malam itu.
"Ibu saya tidak bisa tidur. Beliau salat malam dan terus mendoakan saya. Mungkin itu yang menyelamatkan kami," ujarnya dengan mata berkaca.
Namun tetap saja, efek dari apel misterius itu belum benar-benar hilang. Tika, meski kini kondisinya lebih stabil, masih enggan berbicara tentang malam itu. Bahkan setiap kali dia melihat buah apel, reaksinya cenderung cemas dan enggan menyentuhnya.
Apel Mistis: Antara Kejadian Gaib dan Trauma Psikis
Kasus ini membuka diskusi menarik antara dunia supranatural dan psikologi. Apakah buah apel tersebut benar-benar gaib, atau hanya simbol dari pengalaman traumatis yang ditolak oleh pikiran bawah sadar? Apakah deskripsi rasa apel yang luar biasa lezat adalah bentuk manipulasi persepsi karena hipnosis, atau memang berasal dari dunia yang tak terlihat?
Satu hal yang pasti, kisah ini menambah deretan panjang misteri jalur Blitar-Malang yang terkenal sepi dan penuh cerita. Dan bagi Rendra dan Tika, malam itu akan selalu menjadi titik balik: malam ketika apel menghilang, dan ingatan pun ikut lenyap.
Editor : Anggi Septian A.P.