Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengupas Jejak Sejarah Pemberontakan Peta di Blitar

Prima Suci Maharani • Jumat, 11 Juli 2025 | 23:00 WIB
MUSEUM PETA DI BLITAR DIKUTIP DARI (mataraman.tribunnews.com)
MUSEUM PETA DI BLITAR DIKUTIP DARI (mataraman.tribunnews.com)

BLITAR - Blitar, 14 Februari 1945 – Terdengar ledakan dahsyat mengguncang Hotel Sakura di Blitar pada dini hari. Guncangan itu berasal dari pihak internal—para prajurit Pembela Tanah Air (PETA) di bawah naungan Sudanco Supriadi yang memberontak terhadap pasukan Jepang.

Perlawanan heroik ini menjadi salah satu perlawanan terbesar terhadap penduduk Jepang di Indonesia. Semua berlangsung ketika Jepang menguasai Indonesia pada 1942, pada mulanya Jepang disambut sebagai saudara tua atas propaganda 3A (Jepang Pemimpin Asia, Pelindung Asia, Cahaya Asia).

Jepang menjanjikan kemerdekaan asalkan Indonesia memiliki pasukan pertahanan sendiri. Dari sinilah PETA terbentuk pada Oktober 1943, dengan tujuan sebenarnya untuk memperkuat pertahanan Jepang di Perang Pasifik.

Faktanya, justru Jepang ingkar janji kemudian menindas masyarakat Indonesia. Hasil bumi dirampas, ribuan pemuda dijadikan romusha (kerja paksa), rakyat hidup dalam kelaparan dan kesengsaraan.

Prajurit PETA diperlakukan diskriminatif—mereka harus memberi hormat kepada tentara Jepang, bahkan yang pangkatnya lebih rendah. Sudanco Supriadi, seorang komandan PETA di Blitar, menyaksikan langsung penderitaan rakyat.

Ia dan rekan-rekannya muak terhadap sikap Jepang yang semena-mena. Meski sempat dicegah oleh Soekarno dan Hatta, Supriadi tetap memimpin pemberontakan pada 14 Februari 1945.

Berkibarkan bendera Merah-Putih, pasukan PETA menyerbu markas Jepang di Hotel Sakura menggunakan meriam dan senjata lainnya.

Namun, Jepang yang mendapat bantuan dari Malang dan Kediri berhasil memadamkan pemberontakan.

Pemberontakan ini berakhir tragis, ratusan prajurit PETA ditangkap, 8 orang dihukum mati, termasuk Muradi, rekan Supriadi, dan Supriadi sendiri hilang secara misterius-masyarakat beranggapan Supriadi telah dieksekusi, ada pula yang percaya ia melarikan diri.

Meski gagal, pemberontakan ini membangkitkan semangat kemerdekaan dan menjadi salah satu pendorong Proklamasi 1945. Kini, Museum PETA di Blitar berdiri sebagai pengingat perjuangan mereka.

Pemberontakan PETA Blitar bukan sekadar aksi militer, melainkan perlawanan terhadap penindasan dan pengkhianatan.

Sejarah ini mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak diberikan, tetapi diperjuangkan.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#kemerdekaan #sejarah #ROMUSHA #blitar #1945 #PETA #merah putih #Perlawanan #jepang #aksi militer #pemberontakan