Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Santan Bikin Liver K.O.? Ini Penjelasan Ilmiahnya dari dr Tirta Blitar

Findika Pratama • Jumat, 11 Juli 2025 | 03:00 WIB

 

Santan Bikin Liver K.O.? Ini Penjelasan Ilmiahnya dari dr Tirta Blitar
Santan Bikin Liver K.O.? Ini Penjelasan Ilmiahnya dari dr Tirta Blitar

BLITAR – Pecinta sayur lodeh, opor ayam, atau gule kambing boleh bernapas lega. Selama ini banyak beredar anggapan bahwa makanan bersantan bisa menyebabkan penyakit liver, bahkan dianggap sebagai biang kerok gangguan hati. Tapi, benarkah begitu?

Menurut penjelasan dr Tirta Blitar, informasi itu tidak sepenuhnya benar. Santan bukanlah musuh bagi tubuh, asalkan dikonsumsi dalam batas wajar dan tidak disandingkan dengan gaya hidup asal-asalan seperti malas bergerak, makan gorengan setiap hari, dan jarang cek kolesterol.

“Livermu rusak bukan karena santennya, tapi karena kamu ngunjuk santen semangkuk tiap hari, terus duduk doang 12 jam sambil ngemil kerupuk rambak,” kata dr Tirta Blitar sambil tertawa di salah satu video edukasinya.

Baca Juga: Mobil Jenazah Gratis di Kota Blitar Siap Beroperasi, Wali Kota: Menjawab Kebutuhan Masyarakat dan Mudah Dijangkau

Lemak Jenuh, Kolesterol, dan Santan

Santan merupakan hasil perasan daging kelapa yang dikenal mengandung lemak jenuh cukup tinggi. Lemak jenuh inilah yang kemudian dianggap sebagai penyebab meningkatnya kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat), yang dapat menumpuk di pembuluh darah dan memberi beban pada organ seperti hati dan jantung.

Namun, menurut dr Tirta Blitar, kita tidak bisa menyamaratakan bahwa semua makanan berlemak jenuh langsung berbahaya. Karena dalam tubuh manusia, lemak jenuh tetap dibutuhkan, terutama sebagai cadangan energi dan pembentukan hormon.

“Santan itu seperti tetangga: baik kalau tidak berlebihan. Tapi kalau kamu undang terus tiap hari, ya bisa bikin keributan,” ujarnya dalam gaya khas Blitaran.

Baca Juga: Mata Merah Menyala: Sosok Nenek Misterius di Jalur Sunyi Blitar-Malang

Peran Empedu dalam Mengolah Lemak

Organ penting yang memproses lemak dalam tubuh adalah empedu, bukan liver secara langsung. Empedu akan membantu memecah lemak, termasuk dari santan, agar bisa diserap tubuh dengan baik.

Namun, jika terlalu banyak lemak yang masuk—baik dari santan, gorengan, jeroan, atau fast food—kerja empedu jadi ekstra keras. Jika ini berlangsung lama, bisa terjadi penumpukan lemak di hati (fatty liver) atau bahkan pembentukan batu empedu.

“Kamu makan santan boleh, tapi jangan habis makan gule kambing langsung tidur siang terus sore ngemil kulit ayam goreng. Itu namanya liver kamu diajak kerja rodi,” kata dr Tirta Blitar.

Baca Juga: Terowongan Tebu: Pintu Gaib yang Membawa ke Dunia Misterius?

Beda Makan Sekali dengan Kebiasaan Harian

Salah satu kesalahan umum masyarakat adalah menyalahkan satu jenis makanan karena penyakit yang muncul. Padahal, penyakit kronis biasanya terjadi karena pola makan jangka panjang, bukan dari satu kali makan lodeh saat hajatan.

“Kalau kamu makan gule seminggu sekali, lalu bilang itu bikin liver rusak, ya itu salah alamat. Tapi kalau kamu sarapan nasi lodeh, siangnya opor, malamnya tongseng, tiap hari, ya baru itu masalah,” tambahnya.

dr Tirta juga menjelaskan bahwa tubuh punya mekanisme alami untuk mengatur metabolisme lemak. Namun, ketika asupan lemak jenuh terlalu tinggi dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik, maka lemak tersebut akan ditimbun, termasuk di jaringan hati.

Baca Juga: Laka Talun, Rabu Malam: Tak Pakai Helm, Pemuda Wlingi Tewas usai Tabrak Plonto

Tips Aman Konsumsi Santan

Agar santan tetap aman dikonsumsi tanpa membuat liver bekerja keras, dr Tirta Blitar menyarankan beberapa hal:

  1. Batasi frekuensi konsumsi makanan bersantan. Maksimal 2–3 kali seminggu sudah cukup.

  2. Perhatikan porsinya. Jangan berlebihan. Makan santan dalam jumlah kecil tidak akan langsung berdampak buruk.

  3. Pilih santan segar dibanding santan instan. Santan instan mengandung pengawet dan biasanya lebih tinggi kadar lemaknya.

  4. Kombinasikan dengan serat dan sayuran. Serat membantu menyerap lemak dalam tubuh.

  5. Rajin cek kolesterol dan fungsi hati. Minimal 6 bulan sekali bagi yang rutin konsumsi makanan berlemak.

    “Saya enggak bilang santan jahat. Tapi jangan kamu ngunjuk kuah lodeh kaya ngombe es degan. Itu yang keliru,” jelas dr Tirta Blitar.

Salah satu yang sering jadi kebingungan masyarakat adalah: berapa batas aman konsumsi santan? Ternyata, menurut dr Tirta, tidak ada standar pasti dari BPOM atau Kemenkes tentang seberapa banyak konsumsi santan dalam sehari.

Yang bisa dijadikan patokan adalah kemampuan tubuh masing-masing dan kondisi kesehatannya. Kalau sudah punya kolesterol tinggi, darah tinggi, atau gangguan liver, tentu harus lebih waspada dan membatasi makanan berlemak—termasuk santan.

“Kalau kamu sehat dan aktif, makan santan sesekali enggak apa-apa. Tapi kalau sudah hipertensi, kolesterol, ya jangan sok kuat makan rendang semangkuk,” tegasnya.

Baca Juga: Tersesat di Alam Gaib, Diselamatkan Doa Ibu di Sepertiga Malam

Jangan Takut, Tapi Bijak

Santan bukanlah racun. Ia tetap bisa jadi bagian dari makanan sehat, apalagi dalam budaya kuliner Indonesia yang kaya akan hidangan santan. Namun, semua harus dikonsumsi secara bijak dan tidak berlebihan.

“Yang bikin sakit itu bukan santannya, tapi cara kamu makan dan hidup. Kalau kamu sehat, aktif, makan bervariasi, santan ya tetap aman,” pungkas dr Tirta Blitar.

Jadi, bagi warga Blitar dan sekitarnya yang doyan lodeh, gule, atau sayur santan lainnya: jangan takut makan santan. Tak perlu juga langsung menyalahkan kuah opor kalau kolesterol naik—bisa jadi yang perlu dibenahi adalah gaya hidupmu sendiri

Editor : Anggi Septian A.P.
#sayur lodeh #Dr Tirta #liver #bersantan #santan #penyakit