Donor Darah Bikin Tekanan Turun? Ini Penjelasan Medis dari dr Tirta Blitar
Findika Pratama• Jumat, 11 Juli 2025 | 02:30 WIB
Donor Darah Bikin Tekanan Turun? Ini Penjelasan Medis dari dr Tirta Blitar
Blitar – Donor darah selama ini dikenal sebagai aksi kemanusiaan yang mulia. Tapi di balik amal sosial itu, ternyata donor darah juga menyimpan manfaat kesehatan. Salah satunya yang sering dibicarakan adalah: apakah donor darah bisa menurunkan tekanan darah?
Jawaban singkatnya: ya, bisa. Tapi tentu tidak sesederhana itu. Ada proses fisiologis yang menjelaskan, dan tidak semua orang cocok atau aman untuk melakukan donor darah secara rutin.
Menurut dr Tirta Blitar, seorang dokter yang dikenal aktif mengedukasi kesehatan di berbagai platform media sosial, donor darah memang memiliki dampak terhadap tekanan darah, tetapi ada banyak hal yang harus diperhatikan.
“Iya, secara logika medis, ketika volume darah dalam tubuh diambil, maka tekanan pun bisa ikut menurun. Tapi bukan berarti ini solusi cepat buat hipertensi,” jelas dr Tirta Blitar.
Saat seseorang mendonorkan darah, sekitar 350 hingga 450 ml darah akan diambil. Itu setara dengan sekitar 1/10 dari total volume darah dalam tubuh orang dewasa. Secara alami, tubuh akan langsung merespons untuk mengkompensasi kehilangan volume tersebut.
Respon ini termasuk:
Aktivasi sistem kardiovaskular
Perubahan kecil pada tekanan darah
Peningkatan produksi sel darah merah oleh sumsum tulang
“Volume cairan yang berkurang dari tubuh akan otomatis menyebabkan tekanan berkurang. Hukum fisika Pascal berlaku: volume turun, tekanan ikut turun,” kata dr Tirta Blitar, menjelaskan dalam bahasa sederhana.
Namun, penurunan tekanan darah ini sifatnya sementara, dan tergantung kondisi tubuh masing-masing.
Salah satu prosedur penting yang tidak boleh dilewatkan adalah pemeriksaan tekanan darah sebelum donor dilakukan. Inilah sebabnya PMI maupun rumah sakit selalu melakukan skrining kesehatan singkat sebelum seseorang dinyatakan boleh donor.
“Tekanan darah terlalu tinggi atau terlalu rendah adalah tanda tubuh tidak dalam kondisi stabil,” ujar dr Tirta.
Kriteria tekanan darah yang umumnya diperbolehkan untuk donor:
Tekanan sistolik (atas): 100–160 mmHg
Tekanan diastolik (bawah): 70–100 mmHg
Kalau tekanan darah kamu di luar rentang tersebut, petugas medis akan menolak permintaan donor untuk melindungi kondisi tubuhmu sendiri.
Lebih dari sekadar menurunkan tekanan darah, donor darah rutin memberikan sejumlah manfaat kesehatan, antara lain:
Menstabilkan kadar zat besi dalam tubuh. Zat besi berlebihan bisa menyebabkan oksidasi berlebih yang merusak organ, termasuk jantung dan liver.
Merangsang produksi darah baru. Tubuh akan memproduksi sel darah merah baru, membuat sistem sirkulasi lebih segar.
Mendeteksi penyakit secara dini. Karena sebelum donor, darah akan diperiksa untuk mendeteksi penyakit infeksius seperti HIV, hepatitis B dan C, serta sifilis.
Membantu mengontrol kolesterol. Beberapa studi menunjukkan bahwa donor darah berkala bisa membantu mengontrol profil lipid darah.
Tidak Semua Orang Bisa Donor
Meski manfaatnya banyak, tidak semua orang bisa dan boleh donor darah. Beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak bisa donor antara lain:
Sedang demam atau sakit
Berat badan di bawah 45 kg
Usia di bawah 17 tahun atau di atas 65 tahun (kecuali dengan izin medis khusus)
Baru menjalani tato atau tindik dalam 6–12 bulan terakhir
Mengidap penyakit kronis seperti hepatitis, HIV/AIDS, atau anemia berat
dr Tirta menekankan pentingnya kejujuran saat mengisi formulir skrining kesehatan sebelum donor.
“Kalau kamu baru ditato terus maksa donor, bisa bahaya buat penerima darah. Karena risiko penularan penyakit masih tinggi,” jelasnya.
Beberapa orang merasa lemas atau pucat setelah donor darah. Menurut dr Tirta Blitar, itu bukan efek permanen, tapi lebih karena tubuh kehilangan cairan dan butuh waktu untuk menyesuaikan kembali.
Makanya, setelah donor, kamu disarankan untuk:
Istirahat sejenak selama 15–30 menit
Minum air putih lebih banyak
Makan snack bergizi yang biasanya disediakan panitia donor
Hindari aktivitas berat dalam 24 jam.
“Kalau kamu abis donor langsung kerja bakti angkat kursi hajatan ya pingsan beneran. Itu bukan karena donor berbahaya, tapi karena kamu ngeyel,” kata dr Tirta dengan gaya khasnya yang ceplas-ceplos.
Donor Darah: Amal yang Bikin Sehat
Lebih dari sekadar tindakan medis, donor darah adalah bentuk solidaritas sosial. Satu kantong darah bisa menyelamatkan hingga 3 nyawa, tergantung komponen darah yang digunakan (sel darah merah, plasma, atau trombosit).
Bagi yang rutin donor, efek positif jangka panjang bisa dirasakan, termasuk profil kesehatan yang lebih stabil, asal dilakukan dengan jeda waktu yang tepat: minimal 12 minggu (3 bulan) untuk pria dan 16 minggu (4 bulan) untuk wanita.
“Donor itu amal, iya. Tapi juga bikin badanmu lebih ringan dan lebih stabil. Saya sendiri kalau tim kerja saya donor rutin, biasanya lebih segar kerjanya,” ujar dr Tirta Blitar, yang aktif mendorong edukasi donor darah di Blitar Raya
Jadi, apakah benar donor darah bisa menurunkan tekanan darah? Jawabannya: ya, bisa, tetapi hanya bersifat sementara, dan bukan pengganti terapi medis untuk hipertensi.
Yang jelas, donor darah itu aman, sehat, dan mulia, asal dilakukan dengan prosedur yang tepat dan kondisi tubuh mendukung. Kalau kamu memenuhi syarat, yuk mulai rutin donor darah—buat bantu sesama, sekaligus jaga badan tetap bugar!